Kolom Alvian Fachrurrozi: Kedirian Yang
Dalam perjalanan hidup ini, beberapa kali saya menemukan orang-orang lucu untuk konteks yang sama sekali tidak lucu, yaitu mereka-mereka yang sedemikian teridentifikasi dengan suatu komunitas atau suatu sosok dan membenamkan identitas kediriannya dengan komunitas kebanggaan atau sosok yang dipujanya itu.
Hal ini setidaknya dalam pengalaman pribadi saya temui dalam dua kasus.
Kasus pertama, mereka yang sedemikian teridentifikasi dengan komunitas, yaitu orang-orang seperguruan kungfu saya dulu. Ketika mereka mengetahui saya sudah hengkang dari perguruan itu dan lebih memilih menambah ilmu di perguruan lain (karena saya merasa di perguruan itu sudah tidak ada lagi yang bisa saya pelajari), mereka memandang saya dengan sinis; terutama orang-orang yang tidak mengenal saya secara pribadi. Bahkan ada dulu yang sampai membully saya di channel Youtube miliknya yang ramai dan akhirnya ketakutan sendiri meminta maaf.
Jujur saya heran dengan orang-orang seperti ini. Ketika saya hengkang dari perguruan kungfu itu (dan secara Ad/Art organisasi saya memang harus hengkang karena jelas tertera peraturan dan bahkan sumpah yang melarang menambah ilmu di perguruan lain), oleh mereka para orang-orang lucu itu dimaknai sebagai penghinaan atas dirinya. Seolah "perguruan itu adalah dirinya dan dirinya adalah perguruan". Padahal, saya tidak pernah menjelek-jelekkan nama perguruan kungfu itu. Bahkan saya tetap menganggap mereka semua saudara.
Hubungan saya secara personal dengan leting tingkat 1 dan leting tingkat 2 yang satu tempat latihan sampai saat ini juga tetap baik. Jadi, sekali lagi, saya heran dengan orang-orang yang tidak mengenal saya secara pribadi, tapi kok bisa dengan sendirinya tersinggung ketika mengetahui cerita saya yang dulunya seanggota seperguruan tetapi sekarang sudah hengkang secara organisasi. Ah, mungkin kekerdilan pikiran dan kedangkalan ilmu itu bersinonim dengan sikap pemberhalaan pada perguruan.
Kasus ke dua, mereka yang sedemikian teridentifikasi dengan tokoh yang dikaguminya, terutama ini orang-orang yang mengagumi tokoh spiritual tertentu. Ketika saya terus berjalan dan bertumbuh, ketika perkembangan batin dan evolusi pemikiran saya sampai pada titik dimana saya merasa sudah tidak relevan lagi mengikuti ajaran tokoh spiritual tertentu, dan saya kemukakan hal itu secara terbuka, banyak juga yang tersinggung dan terluka hatinya.
Mereka memaknai dinamika perjalanan spiritual saya sebagai penghinaan atas dirinya secara personal, seolah-olah "sang tokoh spiritual itu adalah dirinya dan dirinya adalah sang tokoh spiritual itu".
Lalu, mereka pada sinis ke saya yang dianggap begitu kurang ajar karena berani mendekonstruksi keimanan spiritual mereka. Padahal, senyatanya saya tidak ada urusan orang mau mengikuti atau bahkan memuja tokoh spiritual manapun, tetapi saya juga punya hak menyatakan pendapat bahwa tokoh spiritual tertentu sudah tidak relevan dengan saya; baik secara perjalanan batin personal maupun secara kolektif kebangsaan.
Ah, mungkin kekerdilan pikiran dan kedangkalan pengalaman batin akan bersinonim pada pemberhalaan kepada tokoh spiritual tertentu.
Ya, kedua kasus seperti itu selalu membuat saya berpikir tentang betapa rapuhnya fondasi identitas yang dibangun oleh banyak orang di atas pijakan eksternal. Ketika seseorang mengikatkan dirinya terlalu erat pada sesuatu di luar dirinya (komunitas, ajaran, atau figur yang dipuja), mereka tanpa sadar telah mengorbankan sebagian besar dari kediriannya.
Mereka tak lagi berdiri tegak sebagai individu yang berdikari, melainkan sebagai rembesan dari sesuatu yang dianggapnya lebih besar, sesuatu yang mereka anggap memberi makna pada eksistensi mereka. Namun, ironisnya, justru di situlah letak kelemahan mereka.
Ketika ikatan itu goyah atau ketika seseorang lain mempertanyakan atau meninggalkannya, mereka merasa diserang secara pribadi, seolah-olah keberadaan mereka sendiri telah diancam, inilah ilusi akut yang digenggam oleh para pandir itu. https://www.youtube.com/watch?v=68HmofxDjIc