Kolom Alvian Fachrurrozi: Mabuk Dan Pelajaran Sang
Aku teringat wejangan seorang kyai yang pernah mengisi masa kecilku. "Mabuk minuman keras itu akan membuatmu bodoh," katanya tegas sambil menatap mataku yang waktu itu masih polos dan penuh rasa ingin tahu. Aku mengangguk sopan, meski di hati kecilku menyimpan keraguan.
Bertahun-tahun kemudian aku membangun otoritas berpikirku sendiri dengan rasa percaya diri ala seorang rebel yang meledak-ledak.
Aku merasa telah menemukan pencerahan baru dalam arus pemikiran Liberal dan ide-ide Freethinker yang berani. Saat itu segala hal yang diucapkan orang-orang tradisionalis tampak kuno dan usang. Aku berpikir, "Jika minuman keras membuat bodoh, lalu bagaimana dengan para filsuf Barat yang banyak menjadi peminum? Nietzsche, Sartre, Bukowski—mereka semua peminum, dan lihat betapa cemerlangnya pemikiran mereka!"
Pikiran itu menjadi tameng pembenaran bagiku. Segelas, dua gelas, hingga beberapa botol minuman keras mulai kutenggak sampai tandas. Tapi aku tak merasa menjadi bodoh. Justru aku merasa kesadaran batinku tetap tak tergoyahkan—ya setidaknya aku meyakinkan diriku demikian. Namun Sang Hidup ternyata adalah guru yang sabar sekaligus keras.
Setelah beberapa waktu mulai lebih intensif lagi mempelajari Buddhisme baik secara teori dan praktik meditasi, kemudian aku tersentak oleh kenyataan yang selama ini tak kusadari. Minuman keras memang tidak membuatku menjadi bodoh secara intelektual.
Aku tetap mampu berpikir kritis, membaca teori, mengunyah ide-ide besar dan menuliskannya. Tetapi kebodohan yang ditanamkan oleh minuman keras adalah kebodohan versi lain, yaitu adalah kebodohan batin atau moha dalam istilah Buddha, yakni salah satu dari tiga akar kejahatan dalam Buddhisme.
Moha bukan kebodohan lahiriah yang mencolok dan mudah dilihat dengan mata telanjang, melainkan kebodohan batin yang sangat halus dan sulit dilacak. Ia adalah kabut gelap yang membuat kita kehilangan arah dalam perjalanan spiritual. Minuman keras, sebagaimana wejangan para leluhur Jawa tentang pantang Molimo, adalah salah satu penguat moha .
Aku sadar, semakin aku tenggelam dalam kebiasaan itu, semakin jauh aku dari ketenangan batin yang selama ini kucari dalam pencarian spiritual yang panjang. Namun pencerahan dhamma tentang moha itu datang terlambat. Di tengah-tengah kehidupanku yang kacau di tanah rantau, aku terjebak dalam lingkaran mabuk-mabukan yang menjadi-jadi.
Tiap malam aku membiarkan cairan pahit miras mengalir ke tenggorokanku, menghanguskan kesadaranku, menggiringku ke jurang egoisme dan kemarahan. Keputusan-keputusan bodoh mulai menggerayangi hidupku. Aku kehilangan teman, kehilangan cinta, bahkan hampir kehilangan diriku sendiri.
Sampai kemudian Sang Hidup menjewerku dan memberikan pelajaran yang terasa sangat pahit. Tapi ya mungkin inilah cara seorang bandel ini belajar. Melalui luka, melalui jatuh, hingga akhirnya kemudian memahami jika Sang Hidup selalu tahu cara terbaik untuk mengajarkan sebuah pelajaran yang penting.
Oleh karenanya aku selalu mengingat satu hal: tidak ada yang lebih berharga dari kesadaran yang jernih. Sebab tanpa itu, kita hanya terseok-seok dalam bayangan sisi gelap dari diri kita sendiri, tenggelam dalam gelap gulita kurungan moha—kebodohan spiritual yang tanpa sadar terus kita rawat.