Kolom Alvian Fachrurrozi: Menyadari Kebodohan — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Alvian Fachrurrozi: Menyadari Kebodohan

Budaya ·
Kolom Alvian Fachrurrozi: Menyadari Kebodohan

Sejak dulu saya sudah berpandangan jika hidup bersama bentangan pengalaman enak dan tidak enak. Manis dan pahitnya ini adalah sebuah laku, lelaku, alias sebuah proses "perjalanan" dan sekaligus proses "pembelajaran" dalam sebuah pawiyatan (sekolah) yang disediakan oleh Sang Hidup. Oleh karena itu, saya adalah pribadi yang suka ngangsu kaweruh (belajar dan meguru), termasuk suka membaca buku, suka berdiskusi, suka mendengarkan cerita orang, dan termasuk suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis.

Semua itu dalam rangka ngangsu kaweruh , dalam rangka belajar dan meguru.

Tetapi di kemudian hari melalui suatu peristiwa Sang Hidup mengingatku kembali, bahwa ada "bahaya halus tetapi fatal" di jalan ilmu itu. Bahaya itu bernama rasa congkak dan rasa lebih tercerahkan secara intelektual daripada orang lain.

Ya, sekalipun sejak dulu saya sudah berpandangan bahwa hidup ini adalah sebuah proses sekolah dari Sang Hidup untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan kita sebagai siswa kehidupan. Tetapi, dulu saya berangkat dengan mindset: bahwa semua proses pembelajaran kehidupan ini adalah untuk menjadikan kita "pintar", "intelek", dan "terpelajar".

Ternyata mindset saya itu "keliru total". Dengan mindset yang keliru total itulah outputnya menjadikan saya pribadi yang "congkak" di hadapan kehidupan, alih-alih saya jadi memahami pawiyatan agung yang digelar oleh Sang Hidup, justru saya menjadi tersungkur semakin jauh dari esensi nilai-nilai pawiyatan kehidupan itu.

Tetapi Sang Hidup itu memang sangat welas asih. Orang secongkak dan sebandel saya tetap diajar dan diperingatkan dengan penuh welas asih demi memahami satu pelajaran hidup yang "teramat penting" untuk meningkatkan kesadaran agar lebih mawas diri.

Ya, satu pelajaran penting dari Sang Hidup itu adalah: hidup ini memang ibarat sebuah sekolah/perguruan, tetapi bukan bertujuan untuk menjadikan kita pintar, intelek, dan terpelajar, melainkan bertujuan menjadikan kita untuk semakin "sadar" atas "kebodohan-kebodohan" kita yang terpendam.

Untuk semakin "menyadari kebodohan-kebodohan kita yang terpendam" itulah mindset yang tepat dan selamat di jalan ilmu, dengan mindset menyadari kebodohan itulah rasa congkak secara intelektual tidak akan tumbuh. Maka dengan berbekal kesadaran itulah, jika sekarang ada yang bertanya: Apakah saya ingin menjadi orang yang pintar dan terpelajar? Akan saya jawab tegas: Sama sekali tidak!

Saya hanya ingin menjadi orang yang bisa terus menerus menyadari kebodohan-kebodohan saya yang terpendam. Maka sekarang jika saya tetap ngangsu kaweruh ke guru-guru kehidupan, tetap membaca buku, tetap berdiskusi, dan mempertanyakan banyak hal. Semua itu dalam rangka untuk semakin menyadari kebodohan-kebodohan saya yang terpendam dan tidak tersadari. Bukan untuk menjadi pintar, intelek, dan terpelajar — perangkap-perangkap ego di jalan ilmu.

Dan, kini akhirnya saya juga semakin paham, kenapa tujuan laku spiritual saudara-saudara kita umat Hindu dan Buddha itu adalah untuk menyadari awidya/avijja (ketidaktahuan/kebodohan batin), bukan untuk menjadi orang yang maha pintar atau untuk suatu tujuan adiduniawi yang muluk-muluk.