Kolom Alvian Fachrurrozi: Wahabi — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Alvian Fachrurrozi: Wahabi

Budaya ·
Kolom Alvian Fachrurrozi: Wahabi

Membaca judul tulisan yang saya sematkan ini saja mungkin sudah bikin dahi pembaca berkerut karena kejanggalannya. Mungkin seorang wahabi menjadi meditator atau sebaliknya mana mungkin juga seorang meditator menjadi wahabi. Tentu saja maksud saya memakai istilah wahabi meditator ini bukan dalam arti yang harafiah melainkan dalam makna metafora.

Wahabi meditator ini saya tenggarai sebagai penyakit delusif yang menjangkiti sebagian praktisi spiritual di dunia meditasi.

Sebagaimana yang jamak masyarakat Indonesia pahami, wahabi adalah aliran dalam Agama Islam yang paling puritan, terbelakang, fanatik, dangkal, dan closed minded. Bahkan berpaham takfiri alias mengkafirkan (menyesatkan) sesama komunitas Islam yang beraliran berbeda karena merasa hanya kelompoknya sendiri yang dapat mengenggam kebenaran.

Sifat-sifat khas wahabi itu dalam bentuk yang berbeda ternyata juga bermanifestasi menjadi watak kolektif sebagain praktisi meditasi yang bahkan katanya sudah melampaui dogma-dogma agama. Sama seperti wahabi dalam Komunitas Islam, para wahabi meditator ini juga merasa sebagai satu-satunya pengenggam kebenaran, puritan, radikal, terbelakang, dan closed minded.

Tentu saja menganut "manifesto takfiri" merasa paling benar sendiri dan serta merta menyalahkan-nyalahkan para meditator yang memiliki metode dan pandangan spiritual yang berbeda. Wahabi meditator ini memang tidak sefrontal wahabi muslim dalam mencemooh ajaran yang berbeda.

Mereka menggunakan gaya-gaya bahasa yang halus dalam manifesto takfiri-nya. Jika wahabi muslim menganggap orang muslim di luar golongannya sebagai buta mata hatinya, wahabi meditator ini juga menganggap para praktisi meditasi di luar kelompoknya sebagai penuh debu tebal di matanya.

Kelompok wahabi meditator di Indonesia mulai eksis setidaknya sejak awal tahun 2000 ke atas. Mereka mengambil meditasi vipassana ajaran Buddha lalu dimodifikasi sesuai keinginan mereka sendiri. Kelompok wahabi meditator tidak saja kerap memandang remeh ajaran spiritual lain seperti Yoga Hindu, Sufisme Islam, atau Mistisme Kejawen.

Mereka bahkan juga merasa lebih memahami ajaran Buddha dibanding umat Buddha sendiri, merasa lebih meditator dan lebih paham vipassana dibanding seorang bhikkhu mahathera.

Meditator wahabi ini memiliki konsep jika kelompoknya adalah penempuh jalur spiritual negatif dan di luar kelompoknya adalah penempuh jalur spiritual positif. Negatif dan positif di sini memiliki arti yang berlawanan daripada apa yang dipahami dalam khazanah kebahasaan secara umum.

Apa yang oleh wahabi meditator dituding sebagai penempuh jalur spiritual positif itu justru memiliki pengertian sebagai "jalur spiritual rendahan" yang tidak akan membawa pada pencerahan atau kebebasan batin, karena pencerahan dan kebebasan batin (dalam khayalan wahabi meditator) hanya bisa ditempuh dalam jalur spiritual negatif melalui pengamatan pasif meditasi vipassana.

Sejujurnya saya dulu juga pernah mengidap sindrom wahabi meditator ini, terutama sepuluhan tahun silam ketika saya awal-awal mengenal ajaran Sang Buddha. Saya saat itu (dengan fanatik) juga menganggap pencerahan spiritual dan kebebasan batin juga hanya bisa ditempuh melalui "satu jalan" yaitu meditasi (meditasi ajaran Buddha).

Sebenarnya pandangan sempit saya ini juga tidak jauh berbeda dengan pandangan saya dua puluhan tahun silam ketika baru sebatas hanya mengenal ajaran Islam sebagai basis keyakinan spiritual. Saya saat itu beranggapan jika pencerahan spiritual dan mengenal Tuhan itu hanya ada "satu jalan" yakni melalui sembahyang shalat.

Beruntung di kemudian hari pikiran sempit (dan picik) saya soal spiritual itu dapat perlahan terkikis setelah menyimak lebih dalam ajaran Sanatana Dharma atau Hinduisme, terutama tentang ajaran "catur marga yoga" atau "empat jalur spiritual". Hinduisme sebagai agama besar tertua di dunia yang masih eksis hingga hari ini ternyata memuat kebijaksanaan spiritual yang sangat luar biasa.

Dalam kebijaksanaan ajaran catur marga yoga itu menjadi lenyap nafsu saya untuk fanatik dan menyalah-nyalahkan para praktisi spiritual dengan metode spiritual yang berbeda. Sebab dalam catur marga yoga, dari keempat jalan spiritual yang berbeda itu semuannya dipandang absah dan valid sebagai jalan pencerahan dan pembebasan batin. Keempat jalan itu adalah; bhakti yoga (jalan sembahyang), karma yoga (jalan amal), jnana yoga (jalan intelektual), dan raja yoga (jalan meditasi).

Hindu Dharma terbukti sebagai rumah besar spiritual yang dapat mencakup dan merangkul atas setiap keragaman jalan pencarian batin manusia. Dalam pencerahan ajaran catur marga yoga inilah saya dapat memahami jika Islam itu memang mengambil kendaraan bhakti yoga (memuja Tuhan) dan sementara agama Buddha mengambil kendaraan raja yoga (keheningan meditasi).

Oleh karena itu, saya juga jadi berhenti mempertentangkan metode spiritual kedua agama itu. Ketika dulu mindset saya masih Islam oriented tentu saya menganggap hanya dengan jalan sembahyang saja orang dapat menjumpai kebenaran dan ketenangan batin. Begitu juga ketika mindset saya masih Buddhis oriented tentu saya juga beranggapan hanya dengan jalan meditasi saja orang dapat pencerahan dan kebebasan batin.

Ketika mindset spiritual saya masih sempit atau separsial itu tadi saya juga memandang remeh jalan amal dan jalan intelektual karena, baik dalam ajaran Islam Sufi atau Vipassana Buddha, kerapkali intelektualitas dipandang sebagai penghalang pencerahan spiritual dan amal perbuatan baik juga dipandang sebagai penimbul kemelekatan batin.

Tetapi dalam perspektif Hindu, pencerahan spiritual yang berarti kebebasan batin atau pelenyapan ego itu jalannya ternyata sangat beragam. Tidak selalu ke-aku-an seorang pejalan spiritual itu dapat lenyap melalui jalan meditasi atau jalan sembahyang. Bisa saja melalui jalan amal perbuatan atau jalan intelektual ke-aku-an seseorang dapat lenyap.

Sekarang saya dapat memahami dengan jelas mengapa seperti intelektualitas kerap dipandang sebagai penghalang spiritual, baik oleh salik sufi atau yogi vipassana, karena secara epistemologis seorang sufi memang hanya tahu "satu jalan" (bhakti yoga/sembahyang) dan begitupun seorang meditator vipassana hanya tahu "satu jalan" (raja yoga/meditasi).

Untuk lebih tercerap secara fokus di jalan bhakti yoga dan raja yoga, intelektualitas dengan efek sampingnya yang berupa skeptisisme dan pemikiran analitik memang perlu sedikit dikendurkan. Empat kendaraan spiritual dari catur marga yoga memang memiliki peta spiritualitasnya masing-masing yang unik.

Seperti intelektualitas misalnya memang kurang relevan di jalan bhakti yoga, raja yoga, dan bahkan di jalan karma yoga. Tetapi, meski demikian, intelektualitas juga bisa menjadi jalan spiritual tersendiri untuk mencapai pencerahan dan kebebasan batin. Jalan itu disebut jnana yoga.

Dengan memahami ajaran catur marga yoga inilah menurut saya seseorang akan berhenti menjadi wahabi muslim atau wahabi meditator, karena ia akan dapat memahami jika jalan pencerahan spiritual itu ternyata begitu luas dan beragam.