Kolom Aspipin Sinulingga: Mimpi Manis — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Aspipin Sinulingga: Mimpi Manis

Budaya ·
Kolom Aspipin Sinulingga: Mimpi Manis

Saat berkunjung ke kuta Sang Pujaan ke Desa Payung (Kecamatan Payung, Kabupaten Karo) perhatianku selalu fokus pada usaha kerajinan produksi tembakau iris yang digeluti oleh orangtua Sang Pujaan. Tembakau menjadi satu primadona produk pertanian Desa Payung selain Buah Naga. Harga tembakau saat ini menurut Ku pribadi sangat menggiurkan, antara Rp. 100 ribu - 250 ribu/ Kg.

Harga yang jauh lebih rasional untuk dijadikan sumber mata pencaharian dari pada menjadi pengerajin minyak nilam.

Dari amatan sepintas, mama dan mami (cara memanggil orang tua pasangan perempuan dalam Adat Karo) dalam 1 minggu mampu memproduksi hingga 20 Kg tembakau iris kering yang dikerjakan secara tradisional. Untuk metode pengeringan pun 100% mengandalkan berkah alam berupa sinar matahari langsung.

Dengan segala keterbatasan metode dan tekhnologi produksi, pengerajin trmbakau iris di Desa Payung punya potensi penghasilan hingga Rp 10 juta/ bulan.

Sangat menjanjikan, bukan?

Namun, itu hanyalah uraian dalam amatan sepintas yang tidak menggambarkan keseluruhan proses produksi maupun Faktor X yang mempermainkan hak komersil dari para pengerajin sendiri. Ada runutan panjang proses produksi yang, jika kita gunakan prinsip-prinsip ekonomi Karl Marx, tidak dapat tidak didefenisikan sebagai "kapital" dari sipengerajin sendiri.

Dengan kata lain, nilai komoditi harusnya juga memperhatikan nilai yang diinvestasikan para pengerajin menyangkut modal uang, tenaga, maupun pengetahuan dalam mewujudkan komoditi dalam betuk nyata ; TIDAK DAPAT MENJUAL BAYANGAN

Sayangnya kekuasaan di negeri ini tidak hadir sebagai "power of control" namun sebagai "komprador" para spekulan. Spekulan merupakan pihak-pihak berprinsip maupun bermetode kerja dengan orientasi jelas, "meraih untung bahkan sebelum komoditas diproduksi".

Ada proses panjang yang dilalui tembakau iris sebelum menjadi komoditas yang menawarkan mimpi basah nan nikmat kepada para pengerajin. Proses yang dilalui dengan harta, nafas, dan keringat. Total paling tidak dibutuhkan waktu 24 jam untuk menghasilkan produk tembakau iris siap jual, dan proses itu menjadi satu kesatuan yang tidak terputus.

Proses produksi tembakau iris dimulai dari tahap "kepak" (memetik daun yang sudah layak petik), lalu kopek dan gulung dilanjut dengan proses pengirisan untuk tembakau ratah (tembakau kering berwarna hijau) lalu proses pengeringan (penjemuran).

Berbeda dengan tembakau ratah , untuk tembakau gersing , setelah proses pengepaken lembar-lembar daun tembakau harus diperam terlebih dahulu hingga matang, ditandai dengan perubahan warna daun menjadi kuning cerah yang merata. Setelah daun tembakau peram matang sempurna, proses dilanjutkan dengan tahap pengkopekan dan penggulungan untuk kemudian dilanjutkan ke tahap pengirisan.

Pengirisan menjadi ujung tombak proses produksi tembakau iris, karena harga jual tembakau ditentukan berdasarkan kualitas tembakau sementara kualitas tembakau terbentuk oleh 2 faktor yang 100% berasal dari si pengerajin:

1. Pengetahuan si pengerajin atas morfologi tembakau

2. Skill pengerajin terkait cara mengiris tembakau, jenis pisau, dan tekhnik mengasah pisau agar mampu menghasilkan irisan setipis mungkin.

Bukankah 2 hal ini adalah "kapital" yang atas nama prinsip etika ekonomi harusnya ditempatkan sebagai investasi dengan nilai paling tinggi dengan nama "loyalti"?

Tapi, begitulah kenyataannya. Sampai di sini aku yakin dengan apa yang Frans Fokuyama sampaikan dalam tulisannya: "Bahwa demokrasi sudah membantu kita menggiring suatu negara untuk bunuh diri (terjemahan ini dalam bahasa tafsiranku)".

Banyak yang ingin kuceritakan tentang Mimpi Manis Tembakau yang sayangnya kerap malah mininggalkan rasa pedas keikhlasan di relung hati para pengerajin. Sebab, mereka yang menikmati hasil terbanyak dari nilai tinggi tembakau bahkan tidak meneteskan satu titik keringat pun saat mewujudkan produk itu. https://www.youtube.com/watch?v=4X9O2epUlJ4