Kolom Feri Ipenk S. Ginting: Harga Hasil Pertanian --
Para petani wortel di Indonesia sempat tersenyum sumringah setelah selama beberapa tahun harga jual wortel bertahan di angka yang memuaskan. Dampaknya, yang menikmati tingginya harga jual wortel bukan hanya para petani wortel. Akibat harga wortel yang tinggi, harga sewa lahan ikutan naik, pemilik traktor kewalahan memenuhi permintaan mengolah lahan dari para pelanggannya. Mereka harus menambah armada traktornya.
Akibatnya, industri pendukung dan pembuat traktor dengan segala onderdil kelengkapannya pun harus meningkatkan produksinya. Serapan tenaga kerja di bidang industri pun menjadi lebih tinggi.
Petani lain yang tidak membudidayakan wortel seperti saya pun mendapat berkah dari tingginya harga jual komoditas bernama wortel ini. Kenapa bisa? Tentu saja karena luas lahan produktif yang dipergunakan untuk menanam wortel semakin hari semakin bertambah luas, maka luas lahan untuk membudidayakan tanaman lain semakin sedikit. Jadi, harga jual tanaman lain pun ikut terdongkrak seperti kol, kentang, brokoli, cabai rawit, cabai merah, dan lain-lain.
Saat harga wortel menukik tajam, harga komoditas lain pun ikut turun. Sebagai perbandingan, Tahun 2023 harga jual wortel di tingkat petani di kisaran harga Rp 3 ribu - Rp 6 ribu. Harga jual kentang di tingkat petani fluktuatif di kisaran Rp 8.500 - Rp 14 ribu. Harga jual kol juga fluktuatif di kisaran harga Rp 3 ribu - Rp 5 ribu. Harga jual cabai rawit di kisaran Rp 23 ribu - Rp 40 ribu. Harga jual cabai merah fluktuatif di kisaran Rp 20 ribu - Rp 30 ribu.
Bandingkan dengan tahun 2024 di saat harga jual wortel begitu rendah. Harga jual kentang Rp 7 ribu - Rp 8 ribu. Harga jual kol Rp 1 ribu - Rp 1.200. Harga cabai rawit Rp 13 ribu - Rp 21 ribu. Harga jual cabai merah Rp 12 ribu - Rp 25 ribu.
Mungkin ini hanya kebetulan, tetapi bagi beberapa orang yang tidak percaya dengan teori kebetulan pasti faham bahwa import wortel dari Tiongkok menyebabkan harga jual wortel jatuh dan berimbas pada jatuhnya harga komoditas pertanian lainnya karena lahan produktif yang digunakan untuk menanam wortel jadi berkurang dan diganti dengan komoditas pertanian yang lain.
Para pengusaha dan pemilik traktor yang sudah terlanjur menambah armadanya pun sedikit demi sedikit jobnya berkurang, para buruh tani yang biasanya bekerja setiap hari mulai berkurang permintaan untuk bekerja di lahan para petani.
Beberapa hari ini, viral kabar tentang para peternak sapi perah harus membuang susu hasil perahannya ke ladang, tanah kosong, bahkan ke sungai. Ramai sekali netijreng bermulut nyinyir yang berkomentar kenapa susunya gak disedekahin aja? Dibagikan gratis kan lebih bermanfaat daripada dibuang kan mubajir. Itu susu kan bisa diolah jadi keju, kefir dan syalalala.... Lalalla.... Syalalala sebagainya.
Begindang ya netijreng yang bu(ng)diman. Jawa Timur itu sentra peternakan sapi, Aku pernah mengikuti pelatihan Nasional Inseminasi buatan pada sapi dan kerbau di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singasari, Malang. Aku udah dibawa keliling Jatim melihat peternakan sapi pedaging dan sapi FH (sapi perah). Jadi, susu yang dihasilkan itu ratusan bahkan ribuan ton.
Begitu juga para peternak sapi di Boyolali yang kecewa dengan kebijakan pembatasan kuota oleh pabrik, mereka membuat aksi mandi susu, bener-bener mandi pakai susu(nya) murni. Itu satu gunung Merbabu. Kalau semua susu dari peternak dikumpulkan maka butuh miliaran rupiah duit buat nyewa truk tangki, pengolahan, tenaga kerja, konsumsi para relawan, BBM untuk membagi-bagikan susu gratis. Emang elu mau nyumbang duit ke mereka agar mereka bisa menyalurkan susu itu secara gretongan?
Lagi-lagi sebuah kebetulan (menurut logika sebagian orang sih) kebijakan pembatasan kuota susu dari para peternak dikeluarkan pabrik karena 80% susu yang diolah di pabrik memakai susu import dari (lagi-lagi) negara yang sama.
Melihat trennya, saya kok jadi khawatir ya perekonomian kita bakal ambruk jika semua komoditas dan kebutuhan hidup diimpor dari negara yang sepertinya menyelipkan paket impor dalam klausal kerja sama dan bantuan ekonomi yang mereka berikan. Kita harus faham bahwa, tindakan mengimpor barang-barang yang diproduksi oleh produsen dalam negeri adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap kedaulatan negara kita.
Marilah berharap semoga persoalan WORTEL dan SUSU tidak berdampak sistemik ke produk dan komoditas lainnya. Makanya, kendalikan wortelmu supaya tidak kehilangan akal ketika melihat susu. Ayo kite joget bangggggg.