Kolom Feri Ipenk S. Ginting: Memilih — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Feri Ipenk S. Ginting: Memilih

Budaya ·
Kolom Feri Ipenk S. Ginting: Memilih

Aku memang gila. Dan aku serius menggeluti kegilaanku. Gilaku bukan side job atau part time. Aku mengerjakan kegilaanku secara full time. Aku selalu berkata bahwa setiap kelas akan berpihak kepada kelasnya masing-masing. Kalau aku pencuri kayu, ketika diberi kekuasaan maka aku akan berpihak kepada pembalak liar.

Kalau aku penjahat, ketika diberi kekuasaan maka aku akan berpihak kepada para penjahat.

Mau punya pemimpin yang berpihak kepada petani? Jalannya cuma satu. Petani harus menciptakan figur pimpinannya sendiri. Bisa menang kalau petani memajukan calon yang diciptakannya? Bisa. Syaratnya cuma 1, para petani ya harus memilih calon yang dia ciptakan itu. Simple kan? 80% kita ini petani dan buruh tani.

Bisa menang? Kan banyak pendatang yang bekerja sebagai buruh tani yang gak mau tau tentang masa depan kabupaten ini? Mereka hanya mau tau tentang uang. NPWP (nomer piro wani piro) lah ya kan? Gampang. Para petani ya harus menjaga lingkungannya masing-masing. Patahkan tangan pemberi dan penerima uang itu. Simple kan? Tapi jangan lah sampai patahkan tangan, itu bisa menyebabkan kita berurusan dengan hukum. Cukup cari bukti, photokan lalu adukan ke bawaslu dan pihak yang berwajib.

Gak usah kita banyak cakap lah. Kabupaten yang kita cintai ini tidak akan pernah berubah ke arah yang lebih baik selama kita, rakyatnya tidak berubah dan memulai habitus berpolitik yang baru. TBH, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, dapatkah seorang pemimpin yang benar-benar bekerja untuk mencari jalan keluar bagi semua permasalahan pokok rakyatnya dilahirkan melalui sistem pemilu transaksional?

Kita harus ingat bahwa setiap kali kita memilih seorang pemimpin, kita berharap bahwa orang yang akan kita pilih kelak akan mampu membawa kita keluar dari seluruh permasalahan hidup kita, baik itu permasalahan sosial, budaya, ekonomi, hukum dll. Itulah tugas seorang pemimpin. Lantas, sejak pemilihan kepala daerah dilaksanakan secara langsung, dan kita para pemilih harus diberi imbalan untuk berangkat ke TPS, memberikan suara kita.

Sudah berapa orang pemimpin yang berhasil kita dudukkan di tempat yang sepantasnya dan mereka benar-benar bekerja untuk menyelesaikan semua permasalahan kita? Berapa orang yang sudah kita dudukkan yang justru membuat permasalahan kita semakin banyak dan semakin buruk?

Selamanya kita akan berkutat di dalam permasalahan yang sama jika kita tidak merubah perilaku kampungan kita dalam berpolitik.