Kolom Ita Apulina Tarigan: Ketinggalan Pencil Di Starbucks — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Ita Apulina Tarigan: Ketinggalan Pencil Di Starbucks

Budaya ·
Kolom Ita Apulina Tarigan: Ketinggalan Pencil Di Starbucks

Sore 1 Desember kemarin saya kembali ke Jakarta dari Bandara Kuala Namu. Karena waktu boarding masih lama, saya beli kopi di Starbucks. Selama ngopi saya keluarkan notebook dan pencil case. Menulis beberapa hal untuk persiapan besok Senin di kantor. Karena saya beli kopi dengan roti, maka dapat gratisan 1 cappucino.

Niatnya mau diberikan kepada cleaning service yang dari tadi saya perhatikan bolak balik.

Akhirnya saya berkemas mau bersiap ke gate tujuan. Cappucino saya tenteng, tetapi pencil case ketinggalan. Setelah cappucino berpindah tangan, sayapun bergegas. Di ruang tunggu saya tidak buka tas lagi, hanya membaca saja karena ternyata pesawat delay 45 menit.

Di Jakarta, kemudian saya baru sadar tidak menemukan pencil case hijau saya. Seminggu kemudian saya tanya Nande Theo (Endang Evangelia) apa ada melihatnya ketinggalan di Binjai. Tidak ada. Selanjutnya saya kontak hotel di Setia Budi (Medan), tempat kami menginap beberapa hari. Tidak ada juga. Saya pasrah tapi tidak ikhlas.

Akhirnya, karena terus kepikiran kepada pencil case saya (di dalamnya ada beberapa pena bersejarah), saya diminta bang Juara Ginting mengingat-ingat kapan saya terakhir menulis. Aha, baru teringat Starbucks Kuala Namu.

Langsung saya telepon Call Centrenya dan mereka bilang akan kontak ke Kuala Namu. Dan, gambar di bawah adalah awal kembalinya pencil case saya beserta isinya. Aduh… senangnya hati… Makasih banget… semua alat tulis di dalamnya, masih rejeki saya. Dua jempol untuk karyawan Starbucks Kuala Namu.