Kolom Ita Apulina Tarigan: Pesta Bunga Dan Buah --
Para boomer suka menghakimi generasi muda yang mereka bilang abai terhadap Budaya Karo, tidak mau tahu dan tidak mau belajar. Para boomer ini juga, yang punya power memfasilitasi agar khazanah Budaya Karo semakin dikenal, digali, dan lain sebagainya.
Mereka malah tidak merasa apa-apa ketika kenderaan karnaval Kecamatan Barus Jahe di Pesta Bunga dan Buah dihiasi wortel.
Wortel berasal dari Bahasa Belanda yang arti harafiahnya akar. Adapun wortel untuk konsumsi manusia biasanya digolongkan umbi-umbian atau sayuran. Bukan bunga dan bukan buah. Demikian juga di flyer pesta ini disertakan gambar bunga kol hanya karena namanya bunga kol, kol bunga atau kembang kol. Padahal komoditi ini sama sekali bukan bunga dan bukan buah yang hendak dipamerkan melalui pesta ini sebagai produk khas Kabupaten Karo.
Bunga kol adalah juga seperti wortel masuk golongan sayuran.
Rombongan Kecamatan Merek yang mengenakan pakaian adat Batak yang bukan Karo sama sekali. Seolah-olah Desa Budaya Dokan yang masuk ke Kecamatan Merek adalah berbudaya Batak yang bukan Karo. Begitu juga dengan pembukaan acara ini di Anjungan Pesta Mejuah-juah yang menampilkan Musik dan Tarian Batak yang sama sekali bukan Karo.
Belum lagi ada parade yang justru menghilangkan Kekaroan kecamatan itu. Hipokrisi para boomer ini memang sudah pada level lain dan mereka santai aja. Wong yang komen kayak saya, orang biasa yang tidak punya power dan kapital.