Kolom Juara R. Ginting: Artikel Tentang Film Piso Surit — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Artikel Tentang Film Piso Surit

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Artikel Tentang Film Piso Surit

Dalam memberitakan sambutan masyarakat terhadap film Piso Surit, Majalah Selecta no.46 tahun 1960 sebagaimana dinaikkan oleh Edi Sembiring Meliala di dinding facebooknya, memberi judul: PISO SURIT -- Burung Malam Yang Diamuk Rindu. Saya tertarik membahas judulnya itu karena terkait erat dengan masalah KBB (Karo Bukan Batak). Tampak sekali penulis tidak mengenal jenis burung yang dinamai Piso Surit atau aslinya adalah Pisoserit.

Karena di lirik lagu itu ada kalimat:

"Lelap matamu tertidur aku menantimu menghamburkan air mata. Haripun beranjak pagi, kekasih. Piso Surit ..... Piso Surit .... Tersedu-sedu, memanggil dan memanggil tapi tetap tiada sahutan."

Penulis sama sekali tidak mengenal burung Piso Surit karena burung ini sama sekali bukan burung malam. Jelas dia tidak mengenal makna lagu "Piso Surit tersedu-sedu serta memanggil dan manggil tanpa sahutan".

Saya pernah beberapa kali mendengar burung ini di Dataran Tinggi Karo. Dia memanggil "piiiiiiiiiiiso suuuuriiiitttt ...." berkali-kali. Hingga dia mendengar sahutan di setiap ujung panggilannya: "Piso surit .... Piso surit ...." Diapun senang sekali melonjak riang hingga mereka saling mendekat dan akhirnya suara mereka tenggelam di dalam cumbuan siang (bukan malam). https://www.youtube.com/watch?v=alYyKCb_Tqo

Kami juga hampir setiap hari mendengar suara Piso Surit di belakang Sanggar Seni Sirulo (Medan). Sedihnya, Piso Surit yang satu ini tidak pernah mendapat sahutan.

Semua itu terjadi pada siang hari. Mengatakan piso surit adalah burung malam merupakan salah besar. Demikianlah banyak aspek-aspek Kebudayaan Karo dijelaskan secara salah, tapi justru anti KBB merujuk ke kepustakaan yang salah itu untuk membully KBB.

Ada lagi yang mengatakan di kepustakaan kalau Piso Surit adalah sejenis pisau. Di sebuah buku pelajaran SD dikatakan lagu Piso Surit adalah lagu daerah Aceh. Yang terakhir ini ada benarnya meskipun masih salah.

Benarnya, Langkat pernah menjadi bagian Daerah Istimewa Aceh sementara di Langkat banyak warganya dari Suku Karo. Tapi, ketidaktahuan terhadap Bahasa Karo membuat si penulis buku tidak mampu menembus kebenaran lebih dalam lagi untuk melihat lagu itu ditulis dalam Bahasa Karo.

Saya kira sudah cukup jelas mengapa saya terus mengulangi jalur utama Gerakan KBB (Karo Bukan Batak) adalah pencerahan terus menerus. https://www.youtube.com/watch?v=W8jkWRZAZLY