Kolom Juara R. Ginting: Menarik Kesimpulan Dari — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Menarik Kesimpulan Dari

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Menarik Kesimpulan Dari

Di sebuah tulisan, saya mengatakan Rakut Sitelu muncul pertama kali di Kepustakaan pada tahun 1952. Seseorang menanggapi pernyataan saya itu di sebuah grup Karo seperti ini: ".... Itu mungkin yang kam tau ... dari dulu .... sudah ada , kawan, hanya belum tertulis ...."

Artinya, dia tidak percaya Rakut Sitelu itu adalah sebuah istilah relatif baru dikenal Masyarakat Karo. Baginya, Rakut Sitelu adalah setua Suku Karo.

Di pihak lain, saya berani menarik kesimpulan seperti itu karena, pertama, saya telah membaca hampir semua Kepustakaan Karo yang terbit sebelum tahun 1952 dalam berbagai bahasa, terutama Bahasa Belanda, Inggris, Jerman, dan Perancis.

Ke dua, ada beberapa penulis penting yang diasumsikan akan menulis Rakut Sitelu kalau memang sudah ada Rakut Sitelu itu sebelum tahun 1952. Ini terutama berlaku pada Kamus Karo -- Belanda yang ditulis oleh J. H. Neumann. Kamus ini terbit pada tahun 1951, setelah kematian J.H. Neumann pada Tahun 1950 di Medan.

Ke tiga, istilah Rakut Sitelu muncul pertama kalinya di buku P. Tamboen berjudul ADAT ISTIADAT KARO (1952). Lalu disosialisasikan melalui Seminar Kebudayaan Karo pada tahun 1958 yang laporannya ditulis oleh P. Tamboen juga.

Penulis berikutnya, Bujur Sitepu, menulis hal yang sama. Diikuti oleh berbagai penulis lain sehingga skripsi, thesis, dan dessertasi mengulanginya saat menulis mengenai Masyarakat Karo tanpa beranjak lebih lanjut daripada sekedar mengatakan "Merga Silima Rakut Sitelu Tutur Siwaluh" dengan memberi tanda dikutip dari tulisan sebelumnya.

Selain sebagai peneliti lapangan, saya adalah seorang peneliti kepustakaan. Ketika saya menggabungkan semua hasil penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan, saya menyimpulkan kalau Rakut Sitelu beranak pinak dari satu kepustakaan ke kepustakaan lain tanpa pernah terlihat wujudnya di dunia praktek Masyarakat Karo.

Coba renungkan dengan pengalaman saya berikut ini.

Suatu hari setelah baru saja pulang menyelesaikan program master di Belanda, saya bermain sepakbola dengan para mahasiswa saya di salah satu sudut Kompleks USU Medan (dengan gawang kecil yang dibuat dari ranting-ranting dan pakaian).

Tiba-tiba saya melihat seorang perempuan muda pemulung botol minum mineral yang terbuat dari plastik. Dia menggendong seorang bayi. Saya tertarik karena, sebelum berangkat ke Belanda, belum ada pemulung seperti itu di Medan.

Lalu, sayapun berlari mendatanginya untuk menanyakan dia suku apa. Jawabannya mengejutkan saya:

"Kami dari Suku Batak Toba, ito."

Mengapa saya terkejut? Setahu saya, istilah Batak Toba hanya terdapat di kepustakaan ataupun di dunia akademik universitas. Orang-orang yang sekarang mengaku Batak Toba ini dulunya akan mengaku Orang Batak.

Begitulah kekhawatiran saya mengenai istilah Rakut Sitelu, kita mempercayainya ada tanpa menyadari dia adalah keturunan buku.