Kolom Juara R. Ginting: Pendekatan "from Within" Dan "from — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Pendekatan "from Within" Dan "from

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Pendekatan "from Within" Dan "from

Pembahasan kita kali ini lebih berat dari biasanya karena istilah "from within" dan "from without" kurang dikenal, baik di kalangan umum maupun di kalangan ilmuwan. Mirip memang dengan "emic view" dan "ethic view" yang biasa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia "pandangan dari dalam" dan "pandangan dari luar". Meskipun pengertian emic dan ethic di kedua istilah itu sebenarnya berasal dari Linguistik "phonemic" dan "phonetic". Phonemic adalah bunyi ucapan sebagaimana didengar oleh pengucapnya, sedangkan phonetic sebagaimana didengar oleh orang lain.

Misalnya, kita dengar "Tigabinange" sementara bagi para pengucapnya yang anak Tigabinanga itu memang Tigabinanga.

Dalam menjelaskan "from within" dan "from without" saya ambil contoh kosa kata tapin . Bagi orang-orang luar ataupun orang-orang Karo sendiri yang kurang MENDALAMI kebudayaannya, tapin adalah tempat mandi umum. Padahal, tapin juga adalah tempat mencuci piring dan pakaian, mengambil air untuk masak, dan sekaligus tempat buang air besar.

Bagi orang-orang yang sudah berasumsi Karo adalah bagian Batak, tapin dianggap berasal dari kosa kata Batak tapian. Padahal, keduanya Bahasa Karo dan Bahasa Batak masih bagian dari Bahasa Melayu dimana dikenal kosa kata tepian .

Kita lihat lagi lebih lanjut, ada 2 ritual terpenting yang dilakukan di tapin kuta , yaitu erpangir dan mbaba anak ku lau . Keduanya adalah ritual journey yang bisa kita mengerti kalau kita paham lirik lagu "teridah pulo-pulona ". Sebuah kuta (desa) bisa terdiri dari beberapa barung-barung (dusun atau farming area), dan salah satu diantara barung-barung itu menjadi rumah kuta sehingga hutan yang dekat rumah kuta dan biasanya meluas ke tapin kuta disebut pulo kuta .

Satu lagi yang perlu diketahui, masing-masing rumah adat Karo merepresentasekan dua rumah sekaligus. Dalam ritual Ngampeken Tekang, penyelesaian kerangka rumah (karang ) dilakukan sebagai penyelesaian sebuah barung (rumah di ladang). Baru ketika seluruh konstruksi rumah diselesaikan dirayakan sebagai sebuah rumah baru.

Dalam ritual erpangir, rombongan berangkat dari sebuah rumah di daerah perladangan (barung-barung ) menuju sebuah rumah di rumah kuta . Meskipun rombongan akan kembali ke rumah yang sama, tapi ritual itu mengkonsepsikannya sebuah journey dari sebuah pulo (barung-barung ) ke pulo pusat (kuta ) dengan menyeberang laut.

Tapin dalam ritual erpangir merepresentasekan pelabuhan (tepian ).

Dalam ritual membawa anak baru lahir ke tapin , rombongan melakukan journey sebaliknya. Sejak kehamilannya 100 berngi , sepasang suami istri wajib tidur di rumah, bukan di barung . Setelah anak lahir, mereka kembali dari rumah ke barung . Perjalanan dari rumah ke barung juga menyeberangi laut sehingga melintasi tapin yang menjadi pelabuhan kuta .

Pendekatan "from without" adalah sebuah penjelasan dari luar berdasarkan minimnya pengetahuan mengenai persoalan yang dibahas. Sementara pendekatan "from within" menuntut kita menggalinya secara lebih mendalam dengan mengamati dan menganalisis tindakan-tindakan dan ekspresi masyarakat setempat terhadap persoalan.

Memang, seorang peneliti perlu juga mengetahui penjelasan-penjelasan "from without" yang sudah pernah dipublikasi untuk memperbanyak kemungkinan-kemungkinan.

Satu lagi contoh yang menarik. Rita S. Kipp menulis di dalam salah satu bukunya kecenderungan bangsawan Melayu mengawini perempuan Karo sebagai strategi untuk bisa menguasai perdagangan hasil-hasil hutan dari daerah Karo. Padahal, kalau kita perhatikan kisah perjalanan John Anderson pada tahun 1823 dari Kampung Ilir (tempat tinggal Sultan Deli) ke Sunggal (tempat tinggal Datuk Sunggal), seseorang hanya melalui hubungan perkawinan tidak bisa memasuki wilayah Karo.

Rencananya Anderson berjalan menuju Sunggal dengan ditemani oleh Sultan Ahmed (putra Datuk Buluh Cina). Karena Sultan Ahmed tak kunjung datang sementara Anderson waktunya terbatas, dia dan rombongannya berangkat menuju Sunggal tanpa Sultan Ahmed.

Tanpa Sultan Ahmed mereka tidak boleh melakukan jalan darat. Mereka harus menyusuri sungai kalau tidak mau mendapat serangan musuh berngi . Di tengah perjalanan, Sultan Ahmed datang dan, sekarang, mereka boleh jalan darat.

Mengapa dengan Sultan Ahmed mereka boleh jalan darat tanpa harus takut pada musuh berngi ?

Buku itu terbit pada tahun 1826 dengan judul Mission to the east cost of Sumatra cetakan pertama dan terbit ulang pada tahun 1971 (tersedia di Perpustakaan RISPA Medan). Sudah banyak peneliti asing yang lancar berbahasa Inggris membacanya, tapi tidak mempertanyakan pertanyaan di atas.

Jawaban pertama adalah karena minimnya pengetahuan mengenai Karo dan tulisan yang ada hanya mengulangi tulisan sebelumnya. Mereka tidak tahu adanya frontier antara pemukiman Karo dengan di luarnya. Orang-orang Karo bebas bepergian hingga ke laut, tapi orang-orang asing termasuk Melayu tidak bisa melintasi frontier itu.

Sultan Ahmed ibunya adalah beru Surbakti dari Sunggal. Karena itu, berdasarkan sistim residen ganda (double locality ), lewat garis keturunan ibu dia adalah juga penduduk Sunggal. Ayahnya yang Melayu mengawini ibunya, tidak bisa melintasi frontier itu.

Perhatikan juga kerja-kerja di losd. Laki-laki yang hanya karena perkawinan tidak akan berani memasuki tempat duduk kalimbubu nya untuk melayani makan (ngelai ). Dia biasanya menyuruh putranya melayani makan untuk melangkah lebih lanjut ke tempat duduk kalimbubu . Sementara anak beru cekuh baka biasanya sejak awal sudah mendampingi kalimbubu duduk di sana.

Juga tidak ada yang mempertanyakan mengapa mereka takut musuh berngi sementara mereka mengadakan perjalanan di siang hari (suari). Sejak T. Lukman Sinar menulis musuh berngi adalah pasukan serang Karo yang membakar bangsal-bangsal tembakau Belanda di malam hari dan Uli Kozok mengikuti penjelasan T. Lukman Sinar, dunia akademik sepakat kalau musuh berngi adalah pasukan serang Karo.

Saya pernah jelaskan sesuatu yang lebih dalam dari itu meskipun dia bisa muncul sebagai Pasukan Serang Karo.

Di sini, cukup saya menekankan bagaimana literatur mengenai Karo termasuk dunia akademiknya menjelaskan Karo kebanyakan berdasarkan ketidaktahuan atau minim pendalaman. Tak ada rotan akarpun jadi, itulah semboyan pendekatan "from without" tanpa mau bersusah-susah memulai penelitian dengan pendekatan "from within".

Lebih gawatnya lagi, ketika kita mengadakan pendekatan "from within" diketawai pula dengan mengatakan menurut buku-buku yang ditulis Belanda adalah begini dan begitu. Seakan kita tidak pernah membaca buku-buku yang disebutkankannya itu. https://www.youtube.com/watch?v=5LtILfIiDF0