Kolom Juara R. Ginting: Persoalan Riil Kbb Di Lapangan
Seorang pendeta GBKP menulis di dinding facebooknya tentang terjadinya perihal unik ini. Seorang ibu guru SD asal Samosir meminta muridnya menyanyikan sebuah lagu Batak. Si murid yang asal Kabanjahe itu kemudian menyanyikan lagu Mbiring Manggis.
Si ibu guru memprotes si murid dengan mengatakan lagu yang dinyanyikannya bukan lagu Batak, tapi melainkan lagu Karo.
Si murid, tulis pendeta itu, bertahan bahwa itu lagu Batak dengan alasan selama ini ibu guru itu sendiri mengajarkan Batak terdiri dari 5 puak termasuk diantaranya adalah Karo. Si guru bertahan pula bahwa Karo termasuk Batak, tapi lagu yang dinyanyikannya tadi adalah lagu Karo (bukan lagu Batak).
Wajar saja banyak komen yang tertawa setelah membaca postingan pendeta itu karena memang itu agak lucu. Tapi, bagi saya, ini adalah masalah serius yang perlu dipahami secara mendalam.
Hal pertama yang perlu didalami adalah adanya dualisme pemahaman tentang Batak. Di kalangan umum dan sebagaimana banyak ditemukan di berbagai kepustakaan, Batak dikatakan meliputi Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Toba, dan Batak Mandailing. Sementara orang-orang ini yang biasa mengakukan dirinya Orang Batak memahami Batak terbatas pada Toba, Samosir, Humbang, dan Silindung. https://www.youtube.com/watch?v=5mqWaLb2Oz0
Jangan heran kalau mereka menyebut lagu Batak terbatas pada lagu-lagu yang liriknya menggunakan Bahasa Batak yang tidak akan dimengerti oleh orang-orang Karo kalau tidak mempelajarinya. Akan tetapi, mereka juga menikmati dunia kepustakaan yang menyatakan Batak meliputi Karo, Simalungun, Pakpak, Toba, dan Mandailing.
Si anak murid itu sudah merasa benar menyanyikan lagu Mbiring Manggis sebagai salah satu lagu Batak seturut dengan ajaran bu guru itu sendiri. Sementara bu guru merasa benar atas ajarannya karena memang begitu buku-buku pelajaran dan akademisi menuliskannya, tapi dia lupa kalau "Bataknya" dia masih kental sekali sehingga dia tidak bisa menikmati lagu "Batak Karo" adalah lagu Batak juga sebagaimana dipikirkan oleh si murid atas ajarannya.
Dalam kasus ini, terjadi bentrok pemahaman si guru dengan pemahaman si murid meskipun pemahaman si murid adalah ajaran si guru itu sendiri. Ibu guru itu mengidap penyakit Double Personality atau Cultural Schizophrenia. https://www.youtube.com/watch?v=-WfE5Lp3BVA
Demikian juga banyak Orang Karo yang anti Gerakan KBB (Karo Bukan Batak) mengatakan kalau Karo adalah bagian Batak karena Batak artinya orang-orang pedalaman yang masih terbelakang (berbeda dengan Melayu). Mereka tidak mengakui Si Raja Batak sebagai nenek moyang mereka.
Orang-orang Batak asli pun mengejek mereka karena bagi mereka (Batak asli), seorang Batak adalah keturunan Si Raja Batak. Orang-orang Karo ini pun mengalami keraguan jati diri, maju kena, mundur kena. Sampai-sampai kita heran, apa sih yang mereka perjuangkan sehingga memaki-maki para pejuang Gerakan KBB sedangkan mereka menyatakan bukan seketurunan dengan Orang-orang Batak asli?
Mereka tergelincir pada "perasaan lae saja" sehingga menggunakan istilah-istilah yang sebenarnya mereka tidak mengerti. Misalnya, mereka menggunakan istilah Rumpun Batak (menolak adanya Suku Batak), tapa menyadari dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kosa kata "rumpun" artinya satu keturunan. https://www.youtube.com/watch?v=Lspd4dA1H88