Kolom Juara R. Ginting: Posisi Karo Dalam Dokumentasi Foto-foto — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Juara R. Ginting: Posisi Karo Dalam Dokumentasi Foto-foto

Budaya ·
Kolom Juara R. Ginting: Posisi Karo Dalam Dokumentasi Foto-foto

Ada satu keistimewaan Karo dibandingkan suku-suku tetangganya, yaitu dalam fotografi. Beberapa museum dan perpustakaan di Belanda melepas foto-foto koleksi mereka online sehingga kita bisa melihat foto-foto lama di internet. Foto-foto dari Taneh Karo, baik Dataran Tinggi Karo maupun Karo Hilir, kiranya adalah yang terbanyak dan memang amat terbanyak.

Sebab utamanya, kebanyakan fotografer di Masa Kolonial membuka studionya di Medan, Binjai, dan ada satu fotografer Jepang yang membuka studio di Berastagi. Di ketiga kota ini mereka anggap usahanya akan dapat banyak pelanggan.

Para pengusaha studio foto itu tidak hanya menerima pesanan dari warga sekitarnya, tapi juga dari dunia internasional seperti halnya untuk kebutuhan postcard, koran, dan majalah di Eropah dan Amerika. Selain itu, sepertinya mereka memang tidak hanya berusaha demi kebutuhan ekonomi, tapi juga kebutuhan hobbi.

Dalam memenuhi permintaan nasional dan internasional serta hobbi, Karo menjadi surga bagi para fotografer. Hanya menaiki sado dengan jarak tidak lebih dari 10 km ke arah Selatan dari pusat Kota Medan sudah ada beberapa kampung tradisional Karo (dengan arsitektur tradisional Karo) dengan kegiatan-kegiatan budaya Karo yang unik. Semakin ke arah pegunungan semakin banyak kampung Karo dengan kegiatan-kegiatan budaya Karo.

Tahun 1905 telah dibangun jalan raya Medan-Kabanjahe (75 km) dan ada pula transportasi umum yang membawa penumpang hilir mudik Kabanjahe-Medan serta sayur-sayuran dari Berastagi ke Medan atau Belawan untuk diekspor ke Malaysia.

Tak heran kalau seorang fotografer dari Medan dalam hitungan jam sudah bisa tiba di sebuah kampung Dataran Tinggi Karo untuk mengabadikan sebuah upacara yang dikhabarkan oleh pengemudi bus atau pedagang sayur.

Demikian juga halnya dengan dunia wisata. Perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur memberi cuti libur kepada pegawai menengahnya ke Bandar Baru dan cuti libur kepada pegawai tinggi ke Berastagi. Karena itu, penginapan-penginapan di Bandarbaru disebut bungalow, sementara di Berastagi disebut villa.

Satu bagian dalam novel karya Lulofs berjudul Rubber, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia "Berpacu Peluh di Kebun Karet", menggambarkan dirinya menatap ke sebuah kampung Karo dari balik jendela villanya di Bukit Gundaling.

Para wisatawan dari Eropah di Masa Kolonial dan Pasca Kolonial juga banyak melepas foto-foto mereka di internet.

Selain secara geografis Taneh Karo mudah dicapai dan hawanya mirip pula dengan Belanda, kegiatan-kegiatan budaya pre-kolonial masih sangat banyak dilaksanakan oleh warga Suku Karo di Masa Kolonial. Lain dengan Batak yang jauh duluan mendapat pengaruh Kristen dan dari missionaris Jerman yang Lutheran pula. Karo belakangan mendapatkan missionaris dari Belanda yang Calvinis.

Kebetulan pula missionaris Belanda yang pertama ke Tanah Karo adalah H.C. Kruyt yang orangnya lemah lembut. Dia lebih suka makan sirih dengan ibu-ibu di Buluh Awar dan dia membuat ibu-ibu tertawa terpingkal-pingkal dengan obrolannya.

Kruyt akhirnya dipulangkan dan digantikan dengan missionaris lain karena tidak ada satupun Orang Karo yang dibabtisnya menjadi Kristen. Terlebih lagi, dia mengatakan "sampai kiamat dunia orang-orang Karo tidak akan pernah menjadi Kristen".

Dalam sebuah novel yang ditulisnya dengan nama samaran dia menulis, "Mengapa saya harus mengenalkan Taman Eden kepada Orang Karo sementara mereka sudah tinggal di Taman Eden?"

Saya ceritakan kegagalan missionaris khususnya Kruyt untuk menjenguk bagaimana kegiatan-kegiatan Budaya Pre-Kolonial masih berlangsung di Masa Kolonial, bahkan hingga Tahun 1960. Salah satu contohnya adalah tradisi pembakaran mayat (kremasi), banyak sekali foto dari Masa Kolonial yang menunjukan praktek kremasi ini.

Beberapa informan saya mengatakan, kremasi masih dilakukan hingga Tahun 1950an di kampungnya.

Karo adalah surga secara umum menurut H.C. Kruyt (pamannya adalah antropolog terkenal A.C. Kruyt), fotografer jelas melihatnya sebagai surga fotografi.

Apakah para generasi muda Karo menangkap Karo sebagai surga youtuber dari tulisan ini?