Kolom Juara R. Ginting: Posisi Merga Si Lima Dalam
Merga Si Lima adalah (menurut abjad): 1. Ginting, 2. Karo-karo, 3. Perangin-angin, 4. Sembiring, 5. Tarigan. Ada kecenderungan orang-orang menganggapnya sebagai induk merga-merga lain Suku Karo karena masing-masing dari kelima merga itu dipakai juga sebagai nama belakang (misalnya, Karo-karo) sebagaimana halnya merga-merga yang menjadi bagiannya (seperti Sinulingga, Purba, Barus, Surbakti, dan Sitepu).
Memang, orang-orang yang punya nama belakang Suka, Munte, dan Jadibata, misalnya, sudah bisa dipastikan adalah dari merga Ginting. Orang-orang Karo dari merga Ginting kebanyakan menggunakan Ginting sebagai nama belakang bukan Munte, Suka ataupun Jadibata.
Berbeda dengan mereka yang berasal dari merga Karo-karo yang kebanyakan menggunakan bagian-bagian merga ini sebagai nama belakang seperti Purba, Sinulingga, Barus, dan Sitepu. Tidak banyak orang yang menggunakan nama belakang Karo-karo seperti halnya Koran Karo-karo (Pejuang 45), Prof. Dr. Santoso Karo-karo (cardiolog yang putra Koran Karo-karo) dan Iwan Karo-karo (mantan pemain PSMS).
Sadar atau tidak sadar, eksplisit atau implisit, ada anggapan bahwa masing-masing merga Karo adalah sebuah garis keturunan patrilineal yang turun dari salah satu diantara 5 merga itu. Padahal, kalau kita kuak sedikit saja, sebenarnya merga-merga yang berada di bawah masing-masing kelima merga itu tidak memiliki asal usul yang sama.
Sibero, Silangit, dan Bondong, misalnya, tidak punya asal usul yang sama meskipun ketiganya sudah sangat pasti bagian dari Tarigan. Demikian juga Bangun, Singarimbun, Keliat, Pinem, Sebayang, dan Kutabuluh punya asal usul berbeda sementara mereka merupakan bagian Perangin-angin.
Setelah saya jelaskan begitu, banyak pembaca yang merasa sudah tau jauh sebelumnya. Tapi, kalau saya tidak kuak sedikit begitu, saya yakin secara implisit menganggap Colia, Brahmana, dan Pandia adalah keturunan Sembiring sehingga mengasumsikan mereka semua hitam karena berasal dari India Selatan (Tamil) yang berkulit hitam.
Padahal, Sembiring adalah ucapan Sempiring sehingga urung mereka, baik yang beribu negeri Seberaya maupun Delitua, bernama Suka Piring.
Kalau beberapa bagian dari Merga Si Lima itu kita temukan juga pada suku-suku lain, Purba misalnya yang ditemukan di Simalungun dan Batak, dengan cepat sekali Kaum Cocokologi menerkamnya seperti anjing menemukan tulang. Tanpa merasa terbeban membuktikannya secara empirik bahwa mereka memang satu keturunan.
Bagaimana dengan Purba Lingga di Jawa, apakah ini gabungan merga Purba dan merga Lingga?
Lain dengan Merga Si Lima yang nyaris tidak bisa kita temukan di luar Karo. Tarigan adalah satu-satunya yang bisa ditemukan di suku lain, yaitu Singkel (Aceh), dengan sebutan Trigan. Saya pernah bertemu dengan seorang dari merga Trigan di Manduamas (Aceh Singkel). Dia berbahasa Singkel dan saya berbahasa Karo, kami saling mengerti dengan jelas sekali seperti saya pernah berbicara dengan orang-orang Alas.
Sementara Ginting, Karo-karo, Perangin-angin, dan Sembiring belum pernah terdengar ada padanannya di luar Suku Karo. Tapi, ternyata dipaksa juga oleh segerombolan penjajah sebagai keturunan Siraja Batak.