Kolom Sri Nanti:
Dua video ini dari pagi seliweran di beranda mengingatkan saya pada suatu malam, 25 tahun yang lalu. Teman-teman pada macak kenceng nonton dangdutan, saya bau asep keringetan jualan sate. Aslinya pengen ikut nonton dari dekat tapi dagangan nggak mungkin ditinggal.
Tiba-tiba datang Bapak-bapak nanya ke saya, "Masih banyak, Nduk?"
"Masih, Pak!"
"Nggak pengen nonton tah! Gadis malam Minggu kok golek duit terus. Mejeng juga penting lo," kira-kira begitu kalimatnya saya agak lupa.
"Dodolan ini lo, Pak!" Jawab saya sambil nyengir.
"Yowis. Bungkus semuanya, tak beli! Habis itu nonton."
Seneng banget dong saya. Langsung kukut. Kunci gerobak, dan bisa ikutan nonton dari dekat.
Saya yakin penjual es yang dagangannya dibeli oleh Niken Salindri juga merasakan hal yang sama. Seneng dagangannya diborong jadi bisa ikutan joget.
Saya nggak tahu apakah akhirnya Gus Miftah memborong dagangan tukang es itu atau tidak, seandainya diborong juga pasti penjualnya seneng, bisa fokus ikut pengajian.
Seandainya tidak ya minimal jangan digoblok-goblokan dan ditertawakan gitulah! Orang susah itu hatinya sensitif. Mudah nelongso, walaupun mungkin itu cuma bercanda.......