Kolom Tetty Sinuhaji: Kain Tenun Karo -- Mejile, Mehaga,
Kain tenun (uis ) ini namanya Arinteneng. Dahulu para penenun menjalin benang-benangnya dari kapas atau kembayat yang ditenun. Sejatinya, berwarna hitam pekat hasil pencelupan di cairan tanaman indigo yang disebut ipelabuhken .
Kain tenun jenis ini dalam adat Karo dipergunakan sebagai alas pinggan pasu , yaitu piring porselin sebagai wadah batang unjuken atau emas kawin.
Selain itu, juga dipakai sebagai alan pinggan tempat makanan bagi pengantin sewaktu acara mukul (acara makan bersama) pada malam hari setelah selesai pesta perjabun atau pernikahan adat. Uis ini juga digunakan sebagai pembalut tiang pada peresmian atau acara adat menget/sumalin jabu atau memasuki rumah baru, dan sebagai alat membayar hutang adat kepada kalimbubu dalam upacara adat erceda ate .
Ahh, budaya kain ternyata sarat penuh makna yang kadang terlupakan karena tergerus oleh zaman. Yuks mencintai kain-kain Indonesia. Jangan sampai kita biarkan terlupakan oleh perkembangan zaman. Mejuah juah .