Kolom Vian Ekaggatā: Hidup Yang — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Vian Ekaggatā: Hidup Yang

Budaya ·
Kolom Vian Ekaggatā: Hidup Yang

Hidup yang tidak dikontemplasikan adalah hidup yang tidak layak untuk dilakonkan. Demikianlah yang dikatakan oleh Socrates. Tetapi bagiku, hidup itu ya tidak cukup hanya untuk dikontemplasikan belaka sampai dahi berkerut-kerut dan rambut berguguran sampai botak.

Hidup yang pantas dilakonkan itu ya adalah hidup yang "dipetualangkan"

Entah itu dipetualangkan secara intelektual dan spiritual melalui penyelaman atas buku-buku pengetahuan dan penyelaman asketisme olah rohani, maupun dipetualangkan secara fisikal melalui penjelajahan demi penjelahan di atas wilayah bumi yang satu ke wilayah bumi yang lain.

Mengapa hidup yang dipetualangkan itu yang merupakan hidup yang pantas untuk dilakonkan? Ya, menurutku, itulah lanskap hidup yang indah dalam lakon singkat kita sebagai manusia.

Bukankah kita sudah terlalu sering menemukan sederetan manusia yang cukup membosankan hanya karena mereka tidak pernah mempetualangkan hidupnya, baik itu secara fisikal maupun secara intelektual dan spiritual?

Bukankah kita muak melihat manusia-manusia yang bermental katak dalam tempurung, manusia-manusia yang menjadi picik karena kerdilnya pemikiran dan wawasan, manusia-manusia yang menjadi intoleran dan bahkan jahat terhadap hidup orang lain hanya karena pergaulan kerdil sektarian, fanatisme sempit, dan kurangnya asupan keterpelajaran yang luas dalam hidup?

Oleh karenanya, lakon hidup yang dipetualangkan itulah yang semestinya layak kita tapaki dan hanya orang-orang yang mencintai lakon hidup seperti itu jugalah yang semestinya layak kita bersamai, karena terang saja kita tentunya cepat atau lambat akan muak dengan pribadi-pribadi yang dangkal dan yang otaknya picik intoleran, pribadi-pribadi yang feodal yang kerap sewot dan terlongo-longo ketika melihat perbedaan dan keragaman atas pilihan jalan hidup.

Sekali lagi, "hidup yang dipetualangkan" itulah hidup yang layak kita lakonkan, bukan "hidup yang difanatikkan" oleh pandangan sempit, bukan "hidup yang dikerdilkan" oleh ketakutan atau fanatisme.