Kolom Vian Ekaggatā : Toto Tatag Tutug -- Bushido Ala — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Vian Ekaggatā : Toto Tatag Tutug -- Bushido Ala

Budaya ·
Kolom Vian Ekaggatā : Toto Tatag Tutug -- Bushido Ala

Jika kita menengok pandangan dunia manusia Jawa masa silam, akan kita dapati jika aspek kebudayaan di masa itu cenderung membentuk nilai-nilai dan karakter manusia yang jangkep (seutuhnya); manusia yang tajam dalam tata "olah lahir" dan tajam dalam tata "olah batin". Secara kultur, baik dimulai dari pusat kebudayaan Jawa di keraton sampai di pelosok desa, mentalitas muda-mudi Jawa dibentuk menjadi satria pinandhita (seorang "satria" yang sekaligus merangkap sebagai seorang "pandhita") selayaknya bangun karakter dari wayang Werkudara.

Untuk menancapkan karakter sebagai seorang pandhita, melalui proses yang panjang mereka dididik untuk memiliki beberapa sikap dan prinsip yang berupa; senantiasa haus akan pengetahuan dan kebajikan, berpantang untuk kendor semangat dalam "ngangsu kaweruh" dan mencicipi lapis demi lapis keilmuan, suka dan senantiasa mengakrabi laku-laku asketis seperti mengurangi tidur, puasa, dan olah samadhi.

Sementara untuk menancapkan karakter sebagai seorang satria, melalui proses yang panjang juga mereka dididik untuk memiliki beberapa hal ini; sikap mental yang tegas dan berani, memiliki keseriusan dalam menggembleng tata lahir semisal ilmu silat dan olah kanuragan, bersumpah untuk memiliki sikap batin "Toto Tatag Tutug" (tertata, berani, selesai) atau dalam redaksi yang lain disebut "Tatag Teteg Tutug " (berani, teguh pendirian, dan selesai).

Pengertian toto adalah tertata lebih dahuku baik aspek lahir maupun aspek batin. Pengertian tatag adalah mantab dan berani. Pengertian tutug adalah seorang berjiwa satria dalam membela sebuah prinsip kebenaran — sekalipun jika dihadapkan pada sebuah pertarungan yang akan berakhir pada kematian, harus tetap diselesaikan dan tidak boleh mundur/ melarikan diri.

Mengenai penanaman nilai-nilai tradisional Jawa yang seperti ini, tentu saja secara kolektif sudah banyak yang tercerabut dari pandangan dunia manusia Jawa Milenial dan Gen Z pada umumnya, lebih-lebih pada penanaman sikap batin atau mentalitas "Toto Tatag Tutug" ini. Soal 3T atau Toto Tatag Tutug ini saya kira sangat menarik untuk dikupas.

Sebagai perbandingan saja, di kalangan samurai dan para pendekar di negeri Jepang sana juga ada sikap hatin dan mentalitas yang dinamai Bushido, yaitu spirit berani mati demi sebuah prinsip kebenaran, bahkan kala mereka para pendekar Jepang itu merasa telah gagal dalam memegang prinsip tadi, mereka tidak segan-segan untuk melakukan harakiri — bunuh diri dengan mengiris perutnya sendiri.

Kita di Jawa yang oleh para leluhur diwarisi ajaran untuk Toto Tatag Tutug ini kok menurut saya sebenarnya juga kurang lebih sama dengan spirit bushido yang diajarkan oleh para leluhur orang Jepang. Konsekuensi dari orang Jawa yang memegang ajaran Toto Tatag Tutug ini saya kira seharusnya juga sama dengan konsekuensi orang Jepang yang memegang prinsip bushido .

Maka seharusnya pemegang prinsip ajaran Toto Tatag Tutug juga tidak main-main. Prinsip itu tidak hanya berlaku dalam sebuah pertarungan silat belaka, tetapi juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari si pemegang prinsip, orang yang sudah mempunyai sikap batin Toto (tertata) dan Tatag (yakin dan berani).

Manakala ia sudah mengatakan A, maka semestinya ia akan sepenuhnya melakukan tindakan A tersebut sampai Tutug (selesai). Pantang baginya untuk membatalkan/ mundur jika sekiranya tidak ingin dikatai sebagai manusia "ora sembada", manusia yang tidak patut.

Seperti halnya pendekar Jepang yang tidak patut, yang sudah melanggar prinsip bushido , tapi ia justru pengecut, enggan dan takut dalam melakukan konsekuensi harakiri .

Maka dalam pembacaan saya, kiranya ada sebuah tautan benang merah, jika orang-orang Jawa itu meski secara umum dalam kesehariannya lembah manah atau sopan, kalem, dan santun, jika sudah menyangkut prinsip-prinsip utama mereka yang diciderai maka mereka pun bisa cancut taliwondo atau totalitas terjun menghadapi — meski apapun resikonya.

“Toto Tatag Tutug”, ketiga kata itulah mantra dan azimat batin yang selalu dipegangnya. Maka bagi saya tidak heran "Manusia Jawa Pemberontak" pada masa perang Jawa 1825-1830 dulu sangat terkenal heroisme keberaniannya, membuat kocar-kacir dan kerugian yang sangat besar bagi pasukan KNIL kolonial Belanda. Sehingga Jendral de Kock pun harus melakukan siasat yang sangat culas, pengecut, dan jauh dari etik seorang satria dalam upaya meredam kobaran Perang Jawa.

Spirit bushido dan spirit Toto Tatag Tutug yang mengkobarkan api keberanian dan menghapus rasa takut akan maut ini sejatinya juga merupakan manifesto dari prinsip spiritualitas yang sangat kuat. Spirit Bushido itu jika kita lacak adalah manifesto dari prinsip zazen (Meditasi Zen Buddhisme) sedangkan spirit Toto Tatag Tutug itu jika kita lacak juga merupakan manifesto dari laku Kebatinan Jawa (Kejawen).

Hampir semua aliran beladiri Jepang mulai dari samurai, karate, judo, aikido, jiu jitsu, hingga ninjutsu itu landasan dan dasar kebatinannya adalah Meditasi Zen. Sedangkan perguruan-perguruan silat di Jawa yang masih otentik, landasan dan dasar kebatinannya adalah juga patrap laku-laku Kejawen; seperti meditasi tapa kungkum di sungai, tapa menyepi seorang diri di hutan, gua, atau puncak-puncak gunung yang sunyi dan angker. Semuanya dalam pandangan dunia Jawa adalah sarana pendidikan dalam upaya menggladi dan mempertajam batin.

Tanpa menyelami lelaku batin Jawa seperti semedhi maka akan tetap mentah dan tidak pernah manjing (terinternalisasi) secara kokoh prinsip Toto Tatag Tutug, seperti halnya pula tanpa intensif laku meditasi zazen , akan mustahil prinsip bushido bisa terinternalisasi dalam kesadaran seorang pendekar Jepang.

Laku tapa atau meditasi adalah laku melatih kondisi kesadaran penuh, keawasan tingkat tinggi, ketenangan tak tergoyah seperti arca, batin yang rileks dalam setiap situasi, serta pada puncaknya adalah sumarah — kepasrahan pada aliran takdir kehidupan. Inilah sekiranya "pusaka batin" yang membuat para kesatria, baik para pendekar Jawa dan pendekar Jepang di masa lalu tidak gentar pada kematian.

Juga sebagaimana kita jumpai korelasinya dalam tokoh pewayangan Werkudara, terutama dalam lakon Dewa Ruci. Sang Werkudara karena sudah ngugemi dawuh (memegang perintah) dari gurunya, sudah tidak kenal lagi pada takut dan maut, ia Toto dan Tatag menjelajahi hutan yang begitu sunyi dan angker serta terjun ke tengah-tengah samudera hingga Tutug.

Semua itu saya kira adalah sebuah simbolisme penting yang mengambarkan tentang keberanian "supra-rasional" dari "para penyelam batin" yang sudah mencapai manifesto "Jumenenging Pribadi" (berkuasanya Ingsun Sejati/ Higher Self/ Kesadaran Ketuhanan), yang tentu saja itu bisa kita tarik benang merah dengan prinsip-prinsip dalam bushido — yang merupakan ajaran yang berakar dari mistik zen Buddhisme.

Selain Toto Tatag Tutug, di Jawa juga ada wejangan lain yang berbunyi "yitna yuwana lena kena ", siapa yang yitna (awas dan penuh kesadaran) akan menemui yuwana (keselamatan). Tetapi, siapa yang lena (tidak awas, tidak berkesadaran) akan menemui celaka.

Tentu saja menjaga kesadaran atau tapa atau samadhi atau meditasi adalah kunci agar kita bisa tetap yitna yuwana . Meditasi adalah satu-satunya landasan kebatinan yang terbukti sangat universal, ia adalah jalan terhubung dengan Sang Sumber Segala Kekuatan dan Sang Causa Prima (Tuhan) dengan "bahasa hening", sebuah bahasa yang paling universal.

Laku meditasi ini tentu saja bukan monopoli olah spiritual yang dimiliki oleh masyarakat Jawa atau Jepang saja, secara historis seluruh negeri Asia sebenarnya telah diterangi oleh Obor Meditasi dari ajaran Buddha Gautama dan juga dari para Guru Pencerah lokal.

Saya pribadi, seiring dengan semakin intensif menyelami dunia meditasi, entah kenapa, saya dihinggapi suatu perasaan yang ganjil, aneh, dan sulit saya jelaskan dengan kata-kata. Itu terjadi manakala saya secara pribadi seketika merasakan ada semacam “persaudaraan batin” yang sangat kuat dengan semua meditator (para pelaku meditasi); baik itu meditator Penghayat Ajaran Jawa dari lintas wejangan dan silsilah perguruan, juga dengan Meditator Buddhis, Teosofi, Jain, Falun Dafa, Hindu, serta dengan para meditator dari beragam komunitas kebatinan dan agama-agama besar yang lain.

Ya, saya merasakan sebagai bagian dari rombongan besar para peziarah batin dari berbagai zaman. Meski meditasi bersifat sangat personal dan terlihat berlatih sendiri, tetapi sesungguhnya tidak benar-benar sendiri. Di tempat lain dan di ruang dimensi lain lebih dari ratusan juta dan mungkin milyaran meditator di waktu yang sama juga sedang menyelami hening, mereka semua membentuk jejaring hening dan vibrasi persaudaraan batin yang sangat kuat.