Pemandian Desa — Sorasirulo
Sorasirulo

Pemandian Desa

Budaya ·
Pemandian Desa
Laporan CORAH SIMBINCAR LAYO dari Dataran Tinggi Karo

Air adalah kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan. Kalau tidak ada air kita tidak akan bisa menjalani kehidupan dengan baik. Mulai dari memasak nasi dan sayur serta air minum, mandi dan mencuci pakaian, juga mencuci piring, semua tidak akan bisa kita perbuat tanpa air. Di Desa Lingga (Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo), ada pemandian umum atau dalam Bahasa Karo disebut tapin .

Tapin dibedakan dengan tapin diberu (pemandian perempuan) dan tapin dilaki (pemandian pria).

Di pemandian perempuan terdapat 5 pancuran yang aliran airnya sangat deras, jernih dan menyegarkan. Di situ tersedia 2 tempat mencuci pakaian. Tapin ini biasanya ramai pada pagi dan sore hari. Pada siang hari jarang yang datang ke tapin sehingga sepi. Persis seperti sebuah petikan lirik Lagu Karo yang di ciptakan oleh alm. Gelora Tarigan: "Lino bagi tapin ciger wari " (hening bagai di tempat pemandian pada siang hari).

Warga pada siang hari pada disibukkan dengan berbagai aktivitas terutama bekerja di ladang. Soalnya, penduduk Desa Lingga mayoritas bermatapencaharian sebagai petani.

Meskipun waga Desa Lingga sebagian besar sudah memiliki sumur bor di rumah masing-masing, sebagian dari mereka masih mandi dan mencuci pakaian ke tapin. Mandi di pancuran yang langsung dari mata air jauh lebih menyegarkan. Itulah sebabnya maka tapin ini masih selalu dipakai walaupun di rumah mereka sendiri sudah ada air.

Pemandian laki-laki berjarak lebih kurang 20 meter dari pemandian perempuan. Pemandian laki-laki terbagi dua yang dibatasi dengan tembok. Menurut ajaran nenek moyang Suku Karo, laki-laki tidak boleh mandi secara bersamaan di tempat pemandian yang sama dengan ipar silangnya (silih ) maupun mertuanya (mama ) meskipun sesama laki-laki. https://www.youtube.com/watch?v=dJa_aIntOSs