Perjalanan — Sorasirulo
Sorasirulo

Perjalanan

Budaya ·
Perjalanan
Oleh FRIEDA AMRAN (Belanda)

Awalnya ada dua peristiwa terpisah yang tau-tau bertemu lagi. Beberapa waktu lalu, aku membeli sebuah buku berjudul ‘Warrior Girl Unearthed’ karya Angeline Boulley. Ceritanya mengenai seorang gadis Indian dari Suku Chippewa di Sault St. Marie, Michigan, AS. Di tahun terakhir masa SMAnya, gadis itu dan rekan-rekannya, para remaja Indian itu harus magang di lembaga-lembaga yang terkait dengan kehidupan kesukuannya: Museum, penerangan dan kepolisian (karena di Amerika, semua kejahatan yang terjadi di wilayah reservasi Indian, ditangani oleh suku Indian yang bersangkutan dan bukan oleh polisi federal Amerika).

Nah, waktu magang di museum reservasinya, ia membantu program repatriasi benda-benda budaya dari museum federal ke museum atau masyarakat sukunya.

Ketika itulah, ia menemukan koleksi belulang museum federal tadi. Rupanya, belulang itu berasal dari sukunya. Museum itu menganggap belulang tadi sebagai ‘benda budaya’ yang harus dirawat dan dipelajari. Akan tetapi, untuk gadis itu dan orang Indian di sukunya, belulang tadi bukan ‘benda budaya’, tetapi merupakan bagian dari nenek-moyangnya.

Selama ini, memang banyak kuburan Orang Indian yang dibongkar: benda-benda yang dikuburkan bersama jenasah dirampok dan lebih parah lagi, belulangnya pun dibawa lari. Banyak kolektor yang berminat membeli benda-benda budaya dan belulang dari masyarakat pribumi (indigenous peoples ).

Ceritanya asyik dan menegangkan, tetapi lebih penting lagi untukku, di bagian akhir buku, dibahas sepintas peran antropologi, arkeologi dan permuseuman dalam perampasan benda budaya serta belulang dari perkuburan masyarakat pribumi. Bahkan, salah seorang sosok penjahat dalam cerita di atas adalah seorang antropolog yang bersedia melakukan segalanya demi menambah pengetahuan mengenai paleo-antropologi masyarakat Indian dan tradisi penguburannya!

Waduuuh ... aku terlalu naif selama ini. Franz Boas, yang dianggap bapak antropologi dunia, antara lain karena teori-teorinya mengenai ras-ras manusia, mendukung perbuatan perampokan kuburan itu! Memang bukan hal yang menyenangkan, katanya, tetapi kalau bukan kita (antropolog), siapa lagi yang akan melakukannya untuk tahu lebih banyak mengenai manusia dan rasnya? Buset. Lama dan sampai sekarang, aku masih sering memikirkan kata-katanya itu.

Nah, beberapa hari lalu lantas terjadi peristiwa ke dua. Ada artikel di koran Trouw. Judulnya kira-kira: Tengkorak-tengkorak Maluku Pulang Setelah 112 Tahun. Wow ... hebat dan mengharukan sekali.

Rupanya ceritanya begini. Pada tahun 1912, seorang dokter KNIL – entah bagaimana caranya – berhasil mendapatkan 15 tengkorak manusia dari Tanimbar. Ia memberikan semuanya kepada seorang ahli antropologi fisik di Universitas Leiden, JP Kleiweg de Zwaan untuk penelitian mengenai ras. Tulisannya berjudul ‘Tanimbarschedels’ dimuat dalam buku ‘Volkenkundige Opstellen’ (Karangan tentang Kebudayaan).

Banyak tulisan lain yang dihasilkan JP Kleiweg de Zwaan dari penelitiannya antara lain terhadap tengkorak-tengkorak Tanimbar itu. Berguna sekali untuk pengetahuan kita mengenai fisik manusia Indonesia, walau buku-bukunya mungkin jarang dibaca kecuali oleh orang yang memang tertarik dengan topik itu.

Tetapi kemudian, apa yang terjadi dengan tengkorak-tengkorak Tanimbar itu? Belulang itu diberikan kepada museum dan dimasukkan ke dalam lemari. Tengkorak Tanimbar di Belanda.

Puluhan tahun kemudian, seorang pemuda Maluku berhasil melacak keberadaan tengkorak-tengkorak itu. Berkat, jerih payahnya, pemuda itu berhasil dengan niatnya: ia akan membawa pulang tengkorak-tengkorak itu dan mengantarkannya pulang ke Amtufu, kampung halaman mereka, di Kepulauan Tamnimbar.

--------------------

Seorang gadis Chippewa di dalam buku dan seorang pemuda Maluku di dalam dunia nyata di Belanda bercita-cita sama: membawa pulang belulang leluhur ke kampung halaman. Ceritanya masih panjang. Masih tertarikkah? BERSAMBUNG