Perjalanan Belulang
Puluhan tahun lalu, aku berkesempatan mengunjungi depot museum Pitt-Rivers di London. Seingatku, depot itu di bawah tanah. Suhu dan kelembaban udara diatur ketat. Ruangan itu besar. Barangkali istilah ruangan tidak tepat karena lebih mirip gedung tersendiri, yang teramat luas. Di dalamnya, rak-rak kayu berderet-deret. Ada yang terbuka, ada yang tertutup. Ada yang berkaca, ada yang tidak.
Banyak pula rak dengan laci-laci tak dalam (sekitar 15-20 cm.
Sebetulnya, depot itu seperti museum dan perpustakaan sekaligus. Buku-buku tua tersusun rapi, lemari-lemari katalog (karena zaman itu, belum ada komputer) dan benda-benda budaya (patung, lukisan, perisai, tombak, alat-alat masak, pakaian, dan entah apa lagi) yang juga tersusun rapi di tempatnya masing-masing.
Rombongan kami, lima antropolog yang sedang belajar di Universitas Leiden. Rasaku antara kagum dan sedih memasuki dan berjalan-jalan melihat koleksi di depot itu. Bayangkan, melihat benda-benda budaya dari Afrika, Mesir, Asia, Amerika Latin bertumpuk-tumpuk. Aku belum pernah ke tempat-tempat itu. Aku belum pernah melihat benda budaya yang begitu bagus, mewah, aneh, mencengangkan seperti itu.
Lalu, muncul sedih dan marah: jangan-jangan masyarakat pembuat benda-budaya itu pun belum pernah melihat apalagi menyentuh benda-benda itu. Jangan-jangan mereka bahkan tidak tahu tentang adanya benda-benda itu di ruang bawah tanah sebuah museum di negeri Inggris nun jauh!
Yang paling mengesankan adalah ketika kami diantarkan ke lemari khusus. Lemari kaca, kuingat. Di dalamnya, ada kepala-kepala boneka, yang kira-kira sebesar telur bebek. Betapa mendetailnya kepala-kepala bonek itu! Alis, kumis bahkan bulu-bulu halus di pipi tampak!
Ternyata, ternyata ... yang kulihat itu bukan kepala-kepala boneka, melainkan kepala manusia! Koleksi itu adalah bagian dari koleksi Tsantsa dari suku Shuar di Ekuador dan Peru. Dahulu kala, dalam peperangan, kepala musuh dikayau—untuk mengambil jiwa dan kekuatan musuh itu, lalu kepala yang sudah dipenggal itu diciutkan.
Tradisi pengayauan dan penciutan kepala musuh itu tidak hanya dikenal oleh beberapa suku di Amerika Latin, tetapi juga oleh beberapa suku di Kalimantan. Tentu saja, tradisi ini tidak dilakukan lagi di mana pun. Aku tidak ingat apakah ada tsantsa yang asalnya dari Kalimantan (kalau pun ada, namanya pasti bukan tsantsa).
Sejak tahun 2020an, museum Pitt-Rivers tidak lag memamerkan koleksi tsantsa itu. Museum-museum lain di dunia pun tidak lagi memamerkan artefak ‘human remains’ dalam koleksi mereka. Itu tidak berarti bahwa belulang tadi, nenek-moyang suatu masyarakat, tidak ada. Ada, tetapi disimpan di dalam depot, jauh dari pandangan mata pengunjung museum.
The British Museum memiliki lebih dari 6.000 belulang (istilah resminya, ‘human remains’. Belulang mungkin bukan istilah yang tepat karena bukan hanya tulang, tetapi juga rambut, gigi, kulit yang disimpan sebagai koleksi dan bahan penelitian). Smithsonian Institute di Amerika menyimpan lebih dari 30,000 belulang, yang sebagian besar berasal dari orang Indian Amerika.
Bagaimana di Belanda? Di website Museum Purbakala, Leiden (Rijksmuseum van Oudheden) tertulis: “Hanya untuk keperluan sains dan pendidikan, museum menyimpan/merawat tinggal manusia dari semua wilayah yang tercakup di dalam koleksinya. Sebagian besar koleksi museum disimpan di dalam gudang/depotnya.” Jumlahnya tidak diungkapkan.
Beberapa waktu lalu, ada berita bahwa Belanda akan mengembalikan beberapa lusin kerangka manusia yang selama ini disimpan di Museum Naturalis Leiden, ke Malaysia. Belulang Malaysia itu diduga berusi sekitar 5.000 tahun dan digali serta diambil oleh ahli-ahli arkeologi Inggris di Penang di antara tahun 1851 dan 1934. (1934! Ayahku lahir pada tahun 1930!
Bayangkan saja! Seseorang yang seusia ayahku mungkin saja ada dalam koleksi suatu museum di dunia!!). Sebanyak 41 kerangka diketemukan dan dibawa ke Eropa. 31 disimpan di Leiden. Selebihnya tidak diketahui di mana adanya.
Bagaimana cerita perjalanan belulang itu? Dari peristirahatannya di Penang, Malaysia, ke Eropa bersama arkeolog Inggris, tetapi kemudian ada di museum di Leiden, negeri Belanda. Di mana pula 10 kerangka lainnya?
Belulang Malaysia itu akan pulang. Belulang Tanimbar pun akan pulang.
Masih banyak pertanyaan, masih bersambung ceritanya.