Perjalanan Belulang — Sorasirulo
Sorasirulo

Perjalanan Belulang

Budaya ·
Perjalanan Belulang
Oleh FRIEDA AMRAN (Belanda)

Pada tahun 2018, Susie Protschky menulis blog berjudul: ‘Not for the Public—Human Remains: Decolonising Disaster in the Museum’ (https://www.materialculture.nl/.../not-public-human... ). Bacaan menarik dan penting untuk memahami perjalanan belulang. Yang menarik perhatianku adalah catatan itu: Not for the Public. Bukan untuk Publik.

Artinya, belulang dan dokumentasi visual mengenai kematian akibat kekejaman perang atau kolonisasi tidak dipajang di dalam museum untuk dilihat oleh publik.

Di satu pihak, niatnya baik. Jangan sampai anak-anak yang ke museum kaget dan trauma melihat benda dan foto yang kejam. Mengerikan. Jangan sampai mereka membawa mimpi buruk setelah pulang dari museum.

Di lain pihak, jauh di mata, jauh di hati. Belulang itu masuk ke lemari, tak tampak lagi. Foto-foto mengerikan itu disimpan, tak tampak lagi. Kekejaman dan penganiayaan tak tampak lagi. Ada kemungkinan bahwa orang—bukan hanya anak-anak— kemudian lupa atau tidak tahu dan tak akan pernah tahu tentang kekejaman dan penganiayaan itu.

Kalau belulang itu (ini yang menjadi pokok perhatianku) masuk ke dalam lemari, siapa yang akan mengutakatiknya? Belulang itu sudah diteliti dan hasil penelitian sudah ditulis dan diterbitkan. Lalu? Aku teringat pada lemari-lemariku sendiri. Teringat pada rak-rak buku yang penuh buku. Sesekali, kalau matahari, bulan dan bintang sejajar di langit, aku membongkar lemari dan rak itu lalu kubersihkan dan kususun lagi.

Tidak jarang, aku menemukan harta karun. “O, ya ampuuuun! Ternyata kain Betawi itu ada di siniiiii!” atau “Yaelaaaaa ... jauh-jauh ke Leiden nyari buku ini di perpus, taunya ada di rak buku sendiri!” Koleksi di dalam lemari, aman, terpelihara dan terlupakan.

Belulang-belulang itu pun di dalam lemari, aman, terpelihara dan terlupakan. Bagaimana mencarinya? Seseorang mengatakan kepadaku: “Ribuan—atau bahkan puluhan ribu-- belulang dari Indonesia ada di Belanda, juga di Inggris, Amerika, Jerman ..”

Barusan, beberapa detik lalu, aku selancar mengetikkan kata kunci di website beberapa museum di negeri Belanda: ‘human remains from Indonesia’ dan ‘human remains from Netherlands-Indies’. Jawaban yang kuterima: ‘De zoekopdracht heeft geen resultaten opgeleverd’ –pencarian tidak memberikan hasil. Artinya, kata kunci yang kugunakan tidak tepat atau tidak ada belulang Indonesia di museum Belanda.

Aaaaah ... masa’ sih??! Lantas ke mana semua belulang yang tadinya terkadang bisa dilihat dan ada di berbagai foto? Bukankah ada di lemari, aman terpelihara dan tersimpan rapi? Masih ada, pasti. Tetapi akses ke belulang itu tertutup demi ... entah demi apa.

Kuketikkan kata kunci: ‘indonesian skulls’. Ini hasilnya. https://www.scmp.com/.../heads-indonesia-foils-bizarre... ; https://www.theguardian.com/.../hobbit-bones-from-tiny... ; https://www.ice.gov/.../ice-returns-tribal-artifacts... ; https://www.pinterest.com/pin/357825132869319075/ ; https://kulturgutverluste.de/.../provenance-and-history... ... banyak sekali, padahal aku belum mencari di situs-situs pelelangan. https://www.youtube.com/watch?v=x5-1saMhElw&t=147s

Beberapa kali, ada orang bertanya padaku: “Bu, kata orang kepalanya Demang Lemang (meninggal di Martapura, Kalimantan pada tahun 1864), ada di Leiden ... Bener ga?” Demang Leman adalah pemuda Kalimantan yang tewas melawan Belanda. Setelah ditangkap, dihukum gantung, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Belanda. Menurut wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Demang_Lehman ), kepalanya dibawa ke Leiden.

Banyak sekali musea di Leiden. Kalau dicari dengan kata kunci: tengkorak Demang Leman, mbah google tidak memberikan jawaban. Benarkah tengkorak Demang Leman ada di Leiden, somewhere? Entahlah. Mbah Google diam dan aku tidak tahu.

Mati langkah. https://www.youtube.com/watch?v=uQ1DNlijcs0&t=181s