Perjalanan Belulang
Pada tahun 2018, Susie Protschky menulis blog berjudul: ‘Not for the Public—Human Remains: Decolonising Disaster in the Museum’ (https://www.materialculture.nl/.../not-public-human... ). Bacaan menarik dan penting untuk memahami perjalanan belulang. Yang menarik perhatianku adalah catatan itu: Not for the Public. Bukan untuk Publik.
Kuketikkan kata kunci: ‘indonesian skulls’. Ini hasilnya. https://www.scmp.com/.../heads-indonesia-foils-bizarre... ; https://www.theguardian.com/.../hobbit-bones-from-tiny... ; https://www.ice.gov/.../ice-returns-tribal-artifacts... ; https://www.pinterest.com/pin/357825132869319075/ ; https://kulturgutverluste.de/.../provenance-and-history... ... banyak sekali, padahal aku belum mencari di situs-situs pelelangan. https://www.youtube.com/watch?v=x5-1saMhElw&t=147s
Beberapa kali, ada orang bertanya padaku: “Bu, kata orang kepalanya Demang Lemang (meninggal di Martapura, Kalimantan pada tahun 1864), ada di Leiden ... Bener ga?” Demang Leman adalah pemuda Kalimantan yang tewas melawan Belanda. Setelah ditangkap, dihukum gantung, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Belanda. Menurut wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Demang_Lehman ), kepalanya dibawa ke Leiden.
Mati langkah. https://www.youtube.com/watch?v=uQ1DNlijcs0&t=181s