Perjalanan Belulang
Pada suatu hari, seorang pemuda Maluku masuk ke sebuah toko kringloop . Toko itu menerima barang-barang yang sudah tidak diinginkan pemiliknya dan menjualnya lagi kepada siapa saja yang memerlukannya dengan harga murah. Kalau pun ada keuntungan, itu digunakan untuk memperbaiki barang-barang rongsokan yang masuk dan untuk menyumbang lembaga-lembaga sosial.
Segala macam perabotan rumah tangga, mulai dari sendok teh sampai lemari, tempat tidur dan meja makan, pakaian, sepatu, mainan, oleh-oleh dari liburan ke negeri jauh dan dekat serta ... buku.
Aku pun suka sekali mendatangi kringloop yang hampir pasti ada di setiap kota. Aku suka sekali melihat apa saja barang dari Indonesia yang pernah disukai oleh orang Belanda pemiliknya: wayang, patung, keranjang, ukiran, sendok kayu dan aneka buku. Yang kucari adalah buku-buku tua tentang Indonesia di masa penjajahan. Sayangnya, semakin lama semakin sedikit buku tua yang kulihat di kringloop.
Menucha, pemuda Maluku tadi, beruntung. Ia menemukan sebuah buku tua terbitan perempat awal tahun 1900. Buku itu mungkin baunya apek dan halamannya sudah menguning, justru inilah yang membuatnya menarik. Ternyata di dalamnya ada bab yang sangat menarik berjudul ‘Tanimbar Schedels’—Tengkorak-tengkorak Tanimbar. Jarang sekali ada buku tentang Tanimbar, apalagi tentang tengkorak Tanimbar! Harganya murah pula! Hanya sekitar € 6,-.
Buku itu langsung dibeli dan dibaca. ‘De Tanimbar Schedels’ ditulis oleh Dr. Kleiweg de Zwaan dari Universitas Leiden. Ia membahas penelitiannya mengenai pengukuran tengkorak untuk menentukan ciri-ciri rasialnya. Baiklah. Mungkin tidak semua orang tertarik pada ciri-ciri rasial sebuah tengkorak. Tetapi, ini tengkorak dari Tanimbar! Bagaimana bisa diteliti oleh Kleiweg de Zwaan?
Sebetulnya sudah kutuliskan sepintas lalu di bagian pertama ‘Perjalanan Belulang’, tapi kuulang lagi di sini. Pada tahun 1912, seorang dokter militer KNIL bernama GNA Ketting berhasil mengumpulkan 15 tengkorak dari Tanimbar. Entah bagaimana caranya dan entah pula berapa usia tengkorak-tengkorak itu.
Bagaimana pun, Ketting lantas mengirimkan tengkorak-tengkorak tadi kepada dr Bolk di Amsterdam, yang kemudian menyampaikannya kepada Dr. Kleiweg de Zwaan, yang mempunyai sudah ternama sebagai peneliti antropologi fisik, khususnya soal ras manusia. Lantas, ahli yang terakhir itu meneliti tengkorak-tengkorak itu, menuliskan laporannya dan kemudian, kemungkinan menyerahkan tengkorak-tengkorak itu ke museum yang menyimpannya.
Lebih dari seratus tahun kemudian, bukunya—yang kini mungkin sudah jarang sekali dilihat dan dibaca dan bahkan sudah langka adanya—diketemukan oleh Menucha. Ia pemuda Maluku yang besar di Belanda tetapi sangat cinta dan sangat peduli pada budaya tanah nenek-moyangnya.
Di mana tengkorak-tengkorak itu sekarang?
Mulailah perjalanan panjang pencarian belulang itu. Entah berapa banyak museum yang dikirimi surat eletronik menanyakan keberadaan tengkorak-tengkorak Tanimbar itu. Lebih dari setahun, ia harus berusaha dan bersabar menunggu jawaban. Sampai suatu hari, ia menerima surel dari Museum Vrolik, museum anatomi yang menjadi bagian dari Amsterdam Medical Centre (Univ. Amsterdam).
Menucha diundang ke museum itu. Ia membawa buku yang dibelinya di kringloop beberapa tahun sebelumnya. Ternyata, museum itu pun tidak memiliki kopi buku itu! Akan tetapi, … dan ini yang paling penting: tengkorak-tengkorak Tanimbar itu disimpan di museum itu. Dan, … juga penting: museum itu setuju bahwa tengkorak-tengkorak itu harus dikembalikan ke tanah asalnya. Desa Amtufu, Pulau Yamdena, Kepulauan Tanimbar di Provinsi Maluku, Indonesia.
Mulailah lagi perjalanan kertas mengurus kepulangan belulang itu. KBRI di Den Haag dihubungi, surat-menyurat untuk pengiriman ‘human remains’ diurus. Tetapi, seandainya semua itu sudah selesai, akan ke manakah tengkorak-tengkorak itu?
Barang-barang warisan budaya berupa benda barangkali masuk akal kalau kembali ke museum, tetapi tengkorak bukan ‘barang’. Tengkorak itu adalah bagian dari manusia, yang dulunya hidup, berburu, mencari ikan, bertani dan akhirnya meninggal dunia di desa Amtufu.
Tengkorak-tengkorak itu adalah bagian dari belulang nenek-moyang orang Amtufu. Bagaimana caranya seorang pemuda di Belanda yang bukan dari Amtufu mencari orang yang dapat menyambut belulang nenek-moyang itu?
Sepertinya mati langkah. Tetapi, kebetulan Menucha bermain futsal bersama pemuda-pemuda Maluku. Suatu saat, seorang pemuda datang dan ikut bermain pula. Boleh ajak teman saya? Katanya. Tentu boleh. Lalu, datang lagi pemuda lain. Ikut semangat bermain futsal. Dari mana? Dari Tanimbar.
Aku tak bisa membayangkan apa yang dirasakan hati Menucha mendengar jawaban pemuda itu. Tanimbar mana? Dari Pulau Yamdena. Dari desa Amtufu. Kebetulan … kata orang, tak ada yang kebetulan terjadi. Ini sudah suratan. Aku sendiri yakin betul. Memang harus begitu jalannya.
Pada tanggal 2 November 2024, 15 tengkorak Tanimbar pulang ke tanah asalnya. Dua hari kemudian, Bea Cukai Ambon menerima dan memberangkatkan lagi tengkorak-tengkorak itu ke Pulau Yamdena. Di sana, dengan upacara, tengkorak-tengkorak itu disambut khidmat.
Tengkorak-tengkorak itu disimpan di rumah adat.
Belulang nenek-moyang itu sudah pulang.
*Selamat untuk Menucha dan rekan-rekan Stichting Budaya Kita yang telah menjemput dan mengantarkan belulang nenek-moyang ke peristirahatan terakhir.