Turang Yang Hilang Telah — Sorasirulo
Sorasirulo

Turang Yang Hilang Telah

Budaya ·
Turang Yang Hilang Telah
Laporan FERI IPENK GINTING

Pada Hari Senin, Tanggal 28 Oktober 2024 saya ditelephone oleh Benson Adi Saputra Kaban, kawan seorganisasi adik saya sewaktu kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) dulu. Begitu panggilannya kuangkat, Benson langsung berkata, "Bang, Film Turang sudah ditemukan."

Aku sangat terkejut dengan kabar yang ia sampaikan.

"Jangan bercanda, Ben. Sudah sangat banyak orang yang mencoba mencari dan menelusuri jejak film itu ke negara-negara berhaluan kiri. Sampai ke Tiongkok, Kuba, Vietnam dan ke berbagai negara lain. Tidak pernah ada yang berhasil menemukan jejaknya. Sejak 21 Mei 1998, pasca lengsernya Soeharto, upaya untuk mencari keberadaan Film itu sudah dilakukan," kataku.

"Serius bang. Film Turang sudah ditemukan. Yang menemukan film itu putri Kandung Bachtiar Siagian yang Bernama Bunga Lestari Siagian. Panjanglah ceritanya sampai dia berhasil menemukan file film ini bang," kata Benson lagi.

Benson pun bercerita tentang perburuan sampai ke negeri Rusia sana, aku memotong ceritanya, "Itu nanti aja kita cerita. Sekarang yang penting gimana caranya supaya aku bisa ikut menonton film itu?"

Singkat cerita......

"Itulah sebabnya aku menelepon kam . Besok kita putar film ini di Seberaya."

"Ha?! Kenapa harus di Seberaya? Jambur dipakai orang untuk pesta dan malamnya pertemuan dengan anak beru . Pilihan tempatnya hanya ada 2 di kesain atau di kedai kopi. Kalau kam bilang tadi di Berastagi atau di Kabanjahe, bisa kucarikan tempat yang tepat dan nyaman."

"Bunga maunya film ini diputar di Seberaya karena proses pengambilan gambarnya sebagian besar dikerjakan di Seberaya. Film ini harus pulang ke rumahnya terlebih dahulu sebelum diputar di tempat lain."

Dengan segala keterbatasan dan mepetnya waktu, aku pun menyanggupi permintaan mereka. Tidak ada waktu untuk mempublikasikan pemutaran film, hanya sempat angkat beritanya di status facebook di hari Selasa 29 Oktober. Sore hari team perlengkapan dan crew pemutaran film sudah datang.

Kami pasang layar di depan rumah kosong samping rumah saya. Layar diikat di tiang rumah kosong itu. Kami memasang tenda ukuran 4x5m untuk mengantisipasi hujan, dan menggelar tikar di atas tanah.

Menjelang jam pemutaran, aku agak resah, jangan-jangan pemutaran film ini akan berakhir memalukan karena tidak ada penonton. Sama sekali tidak ada waktu untuk membuat pengumuman kepada orang banyak. Satu-satunya publikasi yang bisa kulakukan hanya dengan mengunggah status di fb.

Keresahanku hilang ketika para penonton mulai berdatangan dan semakin banyak. Akhirnya acara pun dimulai. Saya memberikan sedikit kata sambutan dan memperkenalkan film Turang kepada penonton, dilanjutkan oleh Bunga Lestari Siagian yang menceritakan tentang proses panjang dan perjuangannya mendapatkan file film Turang.

Kemudian dilanjutkan oleh Bung Idris Pasaribu, seorang aktivis yang pernah bertemu dengan Bachtiar Siagian dan Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru dan beliau juga dekat dengan Djaga Depari.

Akhirnya yang dinantikan pun tiba. Pemutaran film pun dimulai. Dalam benakku, file mungkin sudah rusak dan berjamur serta banyak bagian yang akan hilang dari film ini. Ternyata dugaanku salah, filenya terawat dengan baik.

Beginilah kondisi pemutaran preview film Turang di Seberaya. Jauh dari kata megah dan mewah. Kita duduk di atas tikar yang digelar di atas tanah. Hanya ada tenda 4 x 5 meter yang dipasang ala kadarnya untuk berjaga-jaga kalau turun hujan. Sangat sederhana dan penuh dengan keterbatasan.

Animo penonton sangat tinggi. Tidak ada yang beranjak pergi sampai film selesai diputar. Bahkan setelah film selesai diputar animo penonton belum surut, Massa masih bersemangat mendengarkan testimony dari Bapak Var Jonathan Tarigan, seorang Budayawan Karo tentang pengalamannya sebagai seorang anak tentara dibawa ke kota Galang untuk menonton pemutaran film Turang di tahun 1958.

Masih banyak hal yang ingin kutuliskan terkait pemutaran film ini di Desa Seberaya kemarin malam. Tentang kesaksian dari para saksi hidup proses pembuatan film ini di tahun 1957, tentang penonton yang ternyata bukan hanya penduduk Desa Seberaya.

Ada yang datang dari Desa Suka, Tiga Panah, Barus Jahe, Kabanjahe, Berastagi, Binjai, Medan bahkan ada yang datang dari Siantar yang harus nginap di hotel karena sudah terlalu larut untuk memaksa pulang ke Siantar. Tapi badan sudah capek seharian bekerja di ladang, besok saya tuliskan sambungannya.

Untuk rekaman video yang saya unggah ini saya sudah mendapat Ijin dari Bunga Siagian. Sebagai bukti bahwa film Turang telah ditemukan bukanlah berita hoax.

Catatan redaksi: Untuk melihat cuplikan video itu, silahkan mengunjungi facebook Feri IpeNK Suranta Ginting