Di Tahun 2030 -- Anda Korban Atau Bukan Dari
Sebuah reel muncul ke akun facebook saya menunjukan Tahun 2030 negara akan kewalahan menangani pasien cuci darah dan gagal ginjal kronis. Sedikit terhentak, saya googling sedikit saja dan semakin terhentak.
Apalagi tren peningkatan juga terjadi pada anak-anak.
Saya belum memiliki data akurat tentang pola konsumsi masyarakat kita hari ini. Hanya saja saya perhatikan beberapa perilaku dan perkembangan yang terjadi di sekitar kita mendukung pernyataan tersebut.
Pertama, kita melihat bahwa makin menjamurnya café-café atau booth-booth yang menjual minuman “berbahaya”. Beberapa tempat ngokrong saya kunjungi tidak menyediakan olahan juice hanya olahan minuman kemasan dan sachet. Berbagai olahan teh, kopi dan minuman berperasa begitu gampang menemukannya di sepanjang jalan kota anda.
Tidak main-main harganya juga sangat terjangkau. Bahkan ada yang mengiklankan dengan ukuran kemasan jumbo hanya Rp3 ribu atau Rp5 ribu saja. Iklannya juga sangat menarik, teh mertua atau teh menantu, atau teh Thailand atau Boba Taiwan, kopi impian, pokat kocok dan sebagainya.
Belum lagi begitu ringannya tangan kita mengambil dan meneguk minuman dalam kemasan atau sachet-an itu. Lebih miris lagi saya perhatikan banyak orangtua (kami juga sempat begitu), dengan gampang dan mungkin termakan iklan memberikan minuman kemasan kepada anak – anak.
Mau iklannya sari buah terbaik lah, susu seribu vitamin lah, minuman penyegar lah, bahkan yang mengaku mengandung madu atau sarang burung sekalipun harus dihindari. Perhatikan komposisi dan kandungannya.
Kandungan pemanis buatan atau gulanya selalu tidak lebih kecil dibanding apa yang mereka banggakan atau iklankan dari produk tersebut. Madunya tiga tetes gulanya dua sendok. Atau kalsiumnya 0,0001 miligram gulanya 15 gram. Atau sarang burungnya sangat tipis tapi sarang gulanya penuh.
Belum lagi bahan kimia lainnya yang tidak kita kenali. Itupun kalau perusahaan mereka jujur menampilkan komposisinya. Ya, sebagian dari kita memang mengatakan sesekali tidak akan membahayakan. Ingat, ginjal kita dan ginjal anak kita merekam setiap cairan minuman dan makanan yang kita makan. Itu hanya soal waktu dan jumlah. Pola Konsumsi Rumah Tangga
Pola konsumsi rumah tangga juga sangat perlu diperhatikan. Kebanyakan kita mencari gampangnya karena alasan sibuk. Membeli ayam goreng tepung, nasi bungkus, mie, atau processes food lainnya atau bahkan memberikan olahan bakso, sosis, nugget, atau ultra proceses food juga akan sangat menentukan kondisi kita pada 2030.
Semakin tidak jelas apa bahan dasar atau bentuk dasar dari apa yang anda makan maka semakin jelas anda akan menjadi korban cuci darah pada tahun 2030. Artinya begini, jika anda ingin mengkonsumsi jambu merah maka yang terbaik adalah memakan jambu merah segar, sedikit lebih buruk adalah juice jambu merah. Kondisi buruknya adalah meminum juice jambu merah dalam kotak atau kemasan pabrikan.
Mulailah berubah dan beralih ke mengolah makanan di rumah. Tentunya banyak kreasi masakan tradisional (a la kampung), apalagi Indonesia begitu beragam etnis. Perhatikanlah kondisi orangtua kita jaman dahulu yang pada hari tuanya pun masih sanggup beraktivitas berat.
Ternyata salah satu yang cukup mempengaruhi adalah pola dan cara makan. Mengolah makanan di dapur secara konvensional atau tradisional ternyata lebih menyehatkan dibanding dengan membeli makanan olahan saat ini. Memang sedikit menyita waktu jika mengolah makanan di dapur sendiri.
Saya sendiri teringat akan pola makan Bapa Tengah bermerga Barus dahulu. Ia lebih sering memasak atau mengonsumsi tangas – tangas atau mirip arsik. Ikan emas, ikan laut, bahkan ikan rebus atau ikan asin juga sering ia masak dengan cara tangas-tangas ini.
Ia tinggal di Medan tapi lebih memilih pola dan cara makan kampung halaman. Ia tidak sakit – sakitan sampai meninggal di usia 80 tahunan.
Salah satu yang menarik dari tangas – tangas ini selain rempah lokal adalah tidak menggunakan minyak goreng sawit melainkan dari kemiri. Bumbu utamanya bawang merah, bawang putih, kunyit, tuba, serai, cekala (kecombrang), kencong (bunga kecombrang),kemangi dan gundera.
Beberapa saya perhatikan lebih sering memasak tangas – tangas ikan dengan kacang panjang atau terong hijau. Namun sesekali boleh dicoba dengan cinur (bagian tengah) dari batang cikala atau pincole agar tidak membosankan. Atau kita boleh mencari cara mengolah makanan lain yang resepnya muncul dalam hitungan detik agar variatif namun tetap selektif.
Dengan mengolah makanan secara konvensional dan tradisonal, selain menggali dan melestarikan resep dan bumbu lokal nusantara, kita juga mengurangi korban cuci darah atau gagal ginjal pada tahun 2030. Pepatah masih berlaku "jika kamu tidak memakan makananmu sebagai obat, maka kamu akan memakan obat sebagai makananmu“. https://www.youtube.com/watch?v=azLcVZ1IK_M Memetik dan memasak sayuran daun pakis yang organik demi kesehatan.