Kisah Empu Gondrong: Kancil Jual Tawar Mencibut Di Namo — Sorasirulo
Sorasirulo

Kisah Empu Gondrong: Kancil Jual Tawar Mencibut Di Namo

Budaya ·
Kisah Empu Gondrong: Kancil Jual Tawar Mencibut Di Namo

Hari ini hari pasar Namo Sipegasen. Masih pagi, memang. Petarungan Buaya dengan Harimau masih lama sehingga ada waktu Kancil berbisnis. Kali ini, Kancil menggantung beberapa ruas bambu seukuran surdam dengan penutup ijuk. Dia menggantungnya di cabang-cabang pohon Beringin bersama obat-obatan tradisional Karo lainnya.

Di Minyak Karo dia menulis, selalu dipakai pebulutangkis kita, Anthony Sinisuka Ginting.

Sekarang, dia memetik senar kulcapinya memainkan lagu Mari-mari. "Hari ini kita membahas mengenai sex," katanya sambil mengamati kulcapinya seolah dia berbicara masalah biasa-biasa saja sementara para audiens sudah bisik-bisik, tersenyum, dan ada yang tertawa. Suasana jadi agak riuh.

"Nah, saya mulai dengan sebuah pertanyaan, apa nama alat kelamin laki-laki dalam Bahasa Karo?" Kata Kancil.

"Na ...." kata Kera Tonggal yang langsung ditepis Kuliki agar dia tidak melanjutkan perkataannya.

"Ini hutan keramat. Jangan ada yang cakap kotor di sini," kata Kuliki.

"Simpan saja dalam hati jawaban kalian. Terpenting untuk saya adalah kesimpulannya nanti atas pertanyaan apakah benar orang-orang Karo keturunan orang-orang Batak," kata Kanci menimpali.

Apa pula dalam Bahasa Batak alat kelamin pria?" Lanjut Kancil.

"Pi ....." kata Beidar.

"Jangan ucapkan lengkap, ya," kata Kancil.

"Ada kira-kira persamaan maupun persinggungannya?"

"Tidak ada sama sekali," kata Sokkir.

"Bagaimana dengan alat kelamin perempuan dalam Bahasa Karo?" Kancil melanjutkan pertanyaannya.

"Me atau Tel," kata Kalinkupa. Semua hadirin tertawa.

"Dalam Bahasa Batak?"

"Bu ...." kata Mawas.

"Bagaimana kalau Orang Karo kesakitan? Siapa yang dipanggilnya?"

"Ibunya," kata Upar. "Keenakan pun ibunya yang dipanggil, nander .... nander .... Kata Orang Karo," lanjut Upar.

"Orang Batak siapa yang dipanggil?"

"Amangoi amang. Bapaknya kata Buaya yang baru saja tiba di sana.

"Kalau alat kelamin pun tak ada kemiripan dan persinggungannya, janganlah sok-sok ngaku 'sian hami do hamu'. Terpenting kita tetap gagah perkasa melindungi istri atau kekasih kita di ranjang maupun di sapo juma dengan meminum teh tawar menci but," kata Kancil.

Hari itu tawar mencibut Kancil laku ludes dengan harga yang dia naikkan sedikit.

Keterangan foto sampul: Perempuan di pagi hari setelah merasakan manfaat Tawar Mencibut.