Kisah Empu Gondrong: Kancil Si Perkulcapi Muncul — Sorasirulo
Sorasirulo

Kisah Empu Gondrong: Kancil Si Perkulcapi Muncul

Budaya ·
Kisah Empu Gondrong: Kancil Si Perkulcapi Muncul

Warga Rimbu Raya mulai kasak kusuk mendengar kabar akan munculnya kembali Si Kancil Perkulcapi di pelataran hutan mereka yang disebut Namo Si Pegasen. Namo atau namu adalah sebutan Karo untuk lubuk, seperti halnya Kuala Namu International Airport. Lubuk ini menjadi terkenal sejak seringnya Siwa Di Gunung (Harimau) dan Siwa Di Laut (Buaya) bertemu di sana. Mereka saling memaki dan kemudian adu jotos di lubuk itu.

Itu terjadi setiap Wari Suma menurut kalender Karo.

Beberapa jam sebelum kedatangan Sang Buaya dan Sang Harimau, Kancil Si Perkulcapi menghibur hadirin dengan wejangan-wejangannya yang, yah ..... semua orang tahu berisikan pesan-pesan Karo adalah suku mandiri.

"Kata Si Kancil, jangan campuri perseteruan Harimau dengan Buaya. Biarkan mereka saling hantam. Kita nikmati saja perseteruan mereka," kata Si Kancil sambil memetik kulcapinya, sehingga dia dijuluki Si Kancil Perkulcapi.

"Ue ...... " kata beberapa Sarudung yang terus menerus sibuk bergelantungan dari dahan yang satu ke dahan yang lain pada sebuah pohon Modang Tanduk.

Manuk Rimba jantan juga hinggap tidak jauh dari mereka siap-siap mendengar cerita Si Kancil Perkulcapi.

Berbagai jenis satwa sudah tak sabaran mendengar apa cerita Si Kancil hari ini, Suma Naik.

"Cerita kita hari ini" kata Kancil membuka kata sambil memainkan lagu Mari-mari.

"Tentang permainan Marteen Paes kemarin itu melawan Arab Saudi dan Australia. Saya tertarik membahas ini karena namanya Paes yang diucapkan Pais adalah sama dengan nama saya dalam Bahasa Karo," kata Kancil Si Pais.

"Berarti licik orangnya si Pais ini," kata seekor Nggerpul sambil menggosok-gosokan punggungnya ke pohon mbacang hutan.

"Mengapa kau bilang licik?!" kata Si Kancil tanpa disadarinya dia memetik kulcapinya sehingga bersuara "teooootttt ....."

"Bagi Pais kal engko dikatakan dalam Bahasa Karo artinya kan licik," kata Si Nggerpul.

"Iya, betul juga. Makanya saya lebih suka disebut Kancil," kata Si Kancil Perkulcapi. Semua hadirin tetawa.

Tiba-tiba saja terdengar suara air sungai berdebur, terutama di Namo Si Pegasen. Buaya melibaskan ekornya ke punggung Harimau sambil berteriak, "pemakaan babi kau!!!!"

"Dale kau !!!!" kata Si Harimau membalas Buaya sementara mulutnya menerkam mata Buaya.

Hadirin tetawa semuanya karena kata-kata "pemakan babi" dan "dale" selalu saja terdengar kalau kedua satwa ini saling bertemu.

"Medan itu kota Batak!" kata Harimau lagi.

"Alllaaahhhh .... kampungmu aja di Parsoburan sana ngaku-ngaku pulak kau Medan kota Batak," aduh mak jang kata Si Buaya.

"Jangan campuri," kata Si Kancil Perkulcapi sambil memetik kulcapinya lagu Peselukken.