Kolom Acha Wahyudi: Angka Kolestrol Tinggi -- — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Acha Wahyudi: Angka Kolestrol Tinggi --

Budaya ·
Kolom Acha Wahyudi: Angka Kolestrol Tinggi --

Selama 3 bulan ini, Brev yang makanan otak sehari-harinya ga jauh dari sains, sejarah, futuristik stuff dan sejenisnya, membuat anak semuda itu mampu mengidentifikasi masalah kesehatan dan nutrisi yang dia butuhkan. Sejak usia 2 tahun, Brev menderita banyak symptoms alergi level medium cenderung parah.

Saat kecil dulu, bolak-balik berobat sampai ke luar negeri.

As we know, pengobatan klasik untuk alergi adalah pemberian steroid. Which is, it could be dangerous! Salah satunya bisa menghambat pertumbuhan.

Dia juga menjalani terapi bioresonance, alat buatan Jerman, dimana hanya ada di satu RS di Jakarta yang menyediakan metode pengobatan tersebut. Itu pun masih kontroversi. Dan beberapa alternatif pengobatan lain, seperti memakai tehnik Ozon, dan lain-lain.

Hasil test alergi menunjukkan deretan panjang makanan yang tidak boleh Brev makan, di antaranya telur, daging ayam, dan beberapa protein. Namun, tidak ada larangan untuk menkonsumsi glukosa dan high carbs snacks.

One day, sekitar 6 tahun lalu, setelah membaca banyak literasi dimana menurut analisaku masuk akal, aku tawarkan anakku yang masih belia ketika itu untuk mencoba pola makan Keto. Dengan konsekuensi Ia tidak dapat lagi memakan berbagai makanan kesukaannya. Brev kecil dengan ketegaran jauh di atas ibunya, setuju untuk mencoba.

Dalam 2 minggu, seluruh lesi cukup parah akibat dermatitis di tubuhnya mengering dan sembuh. Dalam 2 bulan Asthmanya tidak lagi sering kambuh. Seiring waktu, walau meal's guidance Brev tetap Keto, artinya makan banyak lemak, protein dan hanya 5 persen carbs, sesekali ia cheat meal. Tubuhnya tidak dapat dibohongi. Langsung inflamasi dan sakit.

Sejak masuk usia 17 tahun, ia mulai ngegym serius dan mendaftar di 2 gym centre, di Parung dan Sentul, ia meminta untuk dibelikan telur lebih banyak. Ia katakan walau telah ngegym sejak usia 16 tahun, tapi tidak ada penambahan otot yang berarti, karena protein yang dia konsumsi kurang.

Sejak 3 bulan lalu, setiap kali makan, selain salad, Ia membutuhkan 72-90 gr protein sesuai berat badannya ketika itu 60kg. So, ia melakukan Intermittent Fasting, makan hanya 2 kali. Dengan mengkonsumsi 10 butir Omega 3, 200 gr boneless chicken breast dan atau 200gr meat, biasanya ditambah topping keju setiap kali makan.

Agak ngeri saat pertama kali melihat porsi makannya. Aku takut percobaannya ini membuat kolesterolnya naik tinggi. Namun Brev mengatakan, saat ini dia tidak lagi merasakan ingin ngemil, karena memang hanya protein yang bisa mengirimkan sinyal kenyang ke otak, sedangkan Carbs tidak.

Saat ini tidurnya lebih nyenyak, lebih mudah untuk berkonsentrasi. Benar juga sih, karena hasil test IELTS di atas nilai yang diharapkan sebelumnya. Berat badannya naik menjadi 65-67 kg, namun lingkar pinggangnya malah mengecil. Seperti yang diharapkan.

Benar saja, saat hasil MCU keluar, kolesterol Brev berada di angka 420 mg/dL, lebih dua kali standar normal! But, gula darah rendah di angka 80 mg/dL. Examiner doctor kaget lihat angka kolesterol anak semuda Brev setinggi itu, langsung memintanya untuk menemui internis. Namun, aku memberikan keterangan kalau Brev itu melakukan Keto. Sudah pasti angka kolesterolnya tinggi.

Sang dokter di usia midlife itu menjawab, apa itu Keto? Aku jelaskan itu pola makan Low Carbs Diet, dan mulailah aku nyerocos, agak prihatin. Meminta sang dokter untuk membaca hasil jurnal medis terbaru dari JAMA, Cornell, dan institusi penelitian ternama lainnya. Bahwa LDL sekalipun yang selalu diberi trademark jahat, adalah unsur penting yang dibutuhkan tubuh. Kolesterol tinggi itu tidak menjadi masalah selama trigleseride normal dan angka gula darah berada di bawah 100 mg/dL.

Sekalian merepet, aku juga menanyakan mengenai apakah dokter-dokter sudah sadar akan masalah Perimeno dan after Menopause? Aku lihat di leaflet-leaflet RS hanya bertebaran informasi medis tentang kesehatan wanita usia produktif dan anak. Tidak ada edukasi bagi wanita midlife!

Aku minta pula agar dokter dan RS bisa meluangkan waktu mempelajari subject tersebut dan mendorong Pemerintah supaya mulai concern dan menyediakan gold treatment BHRT terjangkau bagi wanita midlife yang tentu tidak semua dapat membeli BHRT dengan harga mahal dan varian terbatas saat ini.

Karena, sesuai penelitian terkini, gold treatment tersebut dibarengi dengan perubahan lifestyle bisa mengurangi angka penderita penyakit degeneratif yang saat ini sudah sangat tinggi. Yang ujungnya akan menurunkan anggaran kesehatan negara.