Kolom Aditya W. Gintings: 4 Pulau, 4 Isyarat --
Keputusan soal 4 pulau Aceh bukan sekadar urusan administrasi. Ia adalah sinyal politik. Seperti bahasa tubuh, peta pun bisa berbicara. Jika benar selama ini ada dominasi Gank Solo dalam pengaturan kekuasaan teritorial, maka tindakan ini bisa dibaca sebagai pergeseran kendali—dari lingkaran Jokowi ke pusat kekuatan baru yang ingin tampil lebih independen: Prabowo.
Pulau boleh kecil, tapi pesan politiknya besar.
Ia menyentuh luka lama soal otonomi, marwah Aceh, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah pusat. Dan, saat Prabowo—sebagai presiden terpilih—memberi respons, maka publik pun membaca: ini bukan sekadar urusan koordinat, ini soal keberanian mengambil alih kendali narasi.
Apakah ini tanda Prabowo mulai menjauh dari pengaruh Jokowi? Belum bisa dipastikan. Tapi dalam politik, kadang diam berarti ya, dan keputusan administratif bisa berarti pernyataan sikap.