Kolom Aditya W. Gintings: Jejak 100 Langkah Yang Berbisik — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Aditya W. Gintings: Jejak 100 Langkah Yang Berbisik

Budaya ·
Kolom Aditya W. Gintings: Jejak 100 Langkah Yang Berbisik

Kau katakan masih seratus langkah untuk menutupi segala kebobrokan yang telah terjadi. Namun, tidakkah kau sadari, Wahai Saudaraku, bahwa langkah bukan sekadar hitungan angka, melainkan gema yang berbisik pada keabadian?

Seratus langkah adalah seratus saksi.

Mereka tak bisa berdusta, tak bisa menyembunyikan kebenaran. Bahkan ketika kau ingin menutupinya, tanah tetap mengingat jejak, angin tetap membawa bau perjalanan, dan waktu tetap mengabadikan alurnya.

Kami katakan bahwa kami telah melihat jejak seratus langkah yang berantakan. Seperti daun-daun yang gugur tanpa arah, seperti gelombang yang pecah di batu karang. Langkah-langkah itu bercerita tentang kebingungan, tentang hati yang belum menemukan tujuannya.

Apakah kau tahu, Saudaraku? Kekacauan pada jejakmu adalah gema dari kekacauan di dalam hatimu. Ketika jiwamu belum berdamai, langkahmu akan selalu tersesat. Ketika pikiranmu diliputi keraguan, arahmu akan selalu berputar-putar.

Kami berharap agar kita bersama menduga akan ada kehancuran. Bukan untuk menjatuhkanmu, tetapi untuk mengingatkanmu bahwa kehancuran adalah awal dari penciptaan. Bukankah benih harus retak sebelum tumbuh menjadi pohon? Bukankah fajar hanya datang setelah kegelapan malam?

Maka, sadarilah... Bahwa seratus langkah yang berantakan bukanlah akhir dari perjalanan. Mereka hanyalah bayangan dari keraguan yang menghantui hatimu. Sadarlah bahwa setiap jejak memiliki makna, dan setiap kesalahan adalah guru yang bijaksana.

Berubahlah... Seperti air yang selalu mengalir, yang tak terjebak pada bentuknya sendiri. Ia merangkul setiap lekukan, menari dalam setiap arus, dan tetap setia pada tujuannya menuju samudera. Biarkan hatimu mengalir seperti itu, berani berubah, berani menjadi lebih baik.

Dan perbaikilah... Bukan untuk menyenangkan mata yang melihat, tetapi untuk menyucikan jiwamu sendiri. Karena langkah yang diperbaiki dengan kesadaran adalah doa yang diam-diam dipanjatkan ke langit. Karena perbaikan adalah tanda bahwa engkau menghargai kehidupan yang telah diberi.

Seratus langkah yang berantakan bisa menjadi seratus doa pengampunan. Seratus kesalahan bisa menjadi seratus kebijaksanaan yang lahir dari pertobatan. Jangan takut pada kehancuran, sebab di dalam kehancuran ada harapan untuk bangkit kembali.

Jadi, melangkahlah dengan keheningan jiwa, melangkahlah dengan keikhlasan hati. Karena seratus langkah yang sadar jauh lebih berarti daripada seribu langkah yang tak tentu arah.