Kolom Aditya W. Gintings: Mengeluhkan
Wahai sahabatku, pernahkah engkau mendengar seseorang berdiri di tengah pasar, menengadah ke langit, dan berteriak (?): “Wahai gravitasi, engkau zalim! Engkau penyebab punggungku membungkuk seperti tanda tanya yang sedang kebingungan!”
Tidak, tidak pernah.
Tak ada kakek renta di mal yang sambil mendorong troli berkata, “Seandainya bukan karena gravitasi, aku akan berjalan seperti elang; dada tegak, punggung lurus, dan langkah penuh wibawa seperti pahlawan dalam film Korea.”
Maka manusia menerima gravitasi seperti menerima nasib perut yang sedikit maju; diam-diam berharap hilang, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh melawannya.
Gravitasi itu seperti mertua: ia selalu ada, ia tak pernah diundang, tetapi kehadirannya tak dapat disangkal. Dan yang paling lucu—kita tidak mengeluh. Bukan karena kita mencintainya, tapi karena kita tahu ia tidak mungkin pergi, bahkan kalau kita unfollow dia di Instagram.
Sahabatku, keluhan hanya tumbuh di tanah tempat harapan yang lain mungkin terjadi. Kita mengeluh tentang cuaca, karena kita tahu cuaca bisa berubah. Kita mengeluh tentang tetangga, karena kita percaya tetangga bisa pindah… entah ke komplek lain atau ke alam yang berbeda.
Kita mengeluh tentang cinta, karena kita masih percaya cinta dapat menjadi lebih lembut dari yang sedang kita genggam. Tetapi gravitasi? Ia adalah hukum semesta—diam, pasti, dan tak bergeming.
Maka renungkanlah: Apa pun yang engkau keluhkan hari ini, itu berarti dalam hatimu, engkau masih percaya sesuatu dapat menjadi lebih baik dari keadaannya sekarang. Keluhan adalah doa yang belum sopan. Keluhan adalah harapan yang belum menemukan kata-kata indahnya.
Dan mungkin, suatu hari, ketika kita sudah tua, rambut memutih, punggung perlahan ikut tertarik bumi, kita akan tersenyum sambil berkata pelan: “Terima kasih, gravitasi… Engkau mengajariku merunduk, agar aku lebih mudah meraih bumi, tempat dari mana aku berasal.”