Kolom Aditya W. Gintings: Negeri Yang Membuatnya Gemetar -- — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Aditya W. Gintings: Negeri Yang Membuatnya Gemetar --

Budaya ·
Kolom Aditya W. Gintings: Negeri Yang Membuatnya Gemetar --

Kadang… sebuah nama bisa membunuh jiwa seseorang. Bukan karena nama itu jahat. Tapi karena sejarah yang ia bawa—terlalu kejam untuk diingat, terlalu pedih untuk dilupakan. 15 tahun lalu, aku melakukan perjalanan bisnis ke Singapura. Ketika itu aku masih bekerja di perusahaan Amerika yang berkantor di Jepang.

Sederhana saja—rapat, makan siang, bertukar kartu nama.

Di sana, aku bertemu seorang perempuan profesional. Rambut hitamnya dikuncir rapi. Matanya cerdas, logikanya tajam, tutur katanya elegan. Perempuan Indonesia. Keturunan Tionghoa. Sekilas tak ada yang salah dengan dunia. Sampai kami makan siang bersama. Kami berbicara soal kerja. Lalu tentang latar belakang. Dengan enteng aku berkata,

“Saya dari Indonesia.”

Dan di detik itulah… Semua berubah. Ia membeku. Tangannya gemetar. Matanya perlahan berkaca. Napasnya tercekat. Seolah kata “Indonesia” adalah senjata. Seolah aku—tanpa sadar—telah menusuk luka yang selama ini dikunci rapat dalam dadanya. Perempuan itu menunduk. Lalu berbisik—dengan suara yang bahkan malaikat pun mungkin menangis mendengarnya:

“Mei 98… saya korban…”

“Saya diperkosa di depan ibu saya sendiri…”

Dunia mendadak senyap. Restoran yang ramai menjadi sunyi. Aku tak bisa bicara. Bahkan napasku pun ikut membatu. Ia tidak lanjutkan ceritanya. Tapi tak perlu. Tangisnya yang tak keluar, lebih keras dari teriakan apa pun. Aku menatapnya… dan aku tahu: Itu bukan hanya tubuh yang pernah disiksa. Tapi jiwa yang dicabik, lalu dibiarkan hidup. Disiksa oleh bayangan masa lalu, dihantui oleh pertanyaan yang tak pernah dijawab:

“Kenapa mereka diam?”

“Kenapa negara ini tak melindungiku?”

Tak lama kemudian, ia bangkit. Berpamitan. Tidak marah. Tidak menangis. Hanya… pergi. Dan dia tak kembali. Ia digantikan perempuan lain. Pertemuan kami berlanjut. Tapi hatiku tertinggal di meja makan itu—di kursi yang tak lagi ditempati perempuan pemberani yang gemetar hanya karena mendengar kata “Indonesia”.

Sejak hari itu, aku membawa beban baru: Bahwa negeriku… telah membiarkan putrinya dilukai. Bahwa sejarah kita ditulis dengan darah dan air mata, …tapi dibacakan dengan diam dan penyangkalan. Mereka menyebutnya tragedi. Tapi bagi perempuan itu… dan ratusan lainnya… itu bukan sekadar peristiwa.

Itu adalah kematian berkali-kali dalam hidup yang sama. Dan kita? Kita tak pernah sungguh-sungguh meminta maaf. Hari ini, mungkin ia sudah jadi orang sukses. Mungkin ia sudah menikah, punya anak, atau mungkin masih mencoba untuk bisa tidur nyenyak.