Kolom Aditya W Gintings: Oligarki Teknologi Dan Pelantikan Donald
Ketika Donald Trump melangkah ke podium pelantikan sebagai Presiden Amerika Serikat, bayang-bayang kekuatan yang menyertainya bukan hanya dari gedung-gedung megah Washington atau tepuk tangan pendukungnya. Di balik itu, berdiri tiga sosok yang mencerminkan wajah baru kekuasaan: Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg.
Kehadiran mereka bukan sekadar seremoni, melainkan simbol dari pergeseran zaman, dari politik yang dikuasai rakyat menjadi oligarki yang dikendalikan segelintir orang kaya teknologi.
Joe Biden pernah memperingatkan kita tentang bahaya ini, tentang Amerika yang berpotensi tergelincir menjadi negara yang diperintah oleh miliarder teknologi. Dan kini, panggung pelantikan Trump menjadi bukti nyata. Kekayaan yang berkumpul di podium itu melampaui USD 1 triliun, sebuah angka yang tidak hanya mencerminkan kekayaan, tetapi juga pengaruh yang nyaris tanpa batas.
Namun, kita tidak boleh terpaku hanya pada kritik terhadap realitas ini. Ada pelajaran yang lebih dalam, yang harus kita serap dengan bijak. Oligarki teknologi bukanlah sekadar fenomena Amerika; ini adalah cermin global yang mengingatkan kita akan bahaya konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir orang.
Ini adalah seruan untuk kembali ke prinsip dasar demokrasi—bahwa kekuasaan sejati harus ada di tangan rakyat.
Indonesia, dengan segala kekayaan budaya dan nilai gotong royong, memiliki kesempatan emas untuk belajar dari peristiwa ini. Kita harus kritis terhadap setiap tanda-tanda konsentrasi kekuasaan yang berlebihan.
Teknologi adalah alat, bukan tuan. Dan dalam setiap inovasi, harus ada kebijaksanaan yang menuntun, memastikan bahwa kemajuan tidak hanya menguntungkan segelintir orang, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi semua.
Marilah kita menjadi bangsa yang tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi juga menjaganya dengan nilai-nilai keadilan dan demokrasi. Kita harus berani berdiri, bukan sebagai pengikut arus oligarki, tetapi sebagai pelopor demokrasi sejati, di mana setiap suara memiliki arti, dan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam membangun masa depan.
Inilah panggilan bagi Indonesia, untuk menjadi bangsa yang memimpin dengan kebijaksanaan, dan bukan dikendalikan oleh kekuasaan uang semata. https://www.youtube.com/watch?v=EGXqSIV1VEU&t=29s