Kolom Aditya W. Gintings: Seandainya Salvador Dali Dari
Di tanah yang dijaga oleh angin dan kabut, di antara lembah yang berbisik kepada langit, lahirlah seorang anak yang melihat dunia tidak seperti yang lainnya. Baginya, sinar mentari yang jatuh ke permukaan air bukan sekadar pantulan, tetapi pesan dari semesta.
Dan, bayangan yang bergetar di tanah bukanlah sekadar jejak, melainkan kenangan dari masa yang belum terjamah.
Salvador Dalí, seandainya ia terlahir di Karo, akan menjadi penyair dalam warna, pengukir mimpi di atas kanvas. Di antara pepohonan pinus yang melantunkan nyanyian sunyi, ia akan duduk termenung, menciptakan bentuk-bentuk yang tidak ditemukan dalam kitab-kitab dunia. Waktu baginya bukanlah garis lurus, tetapi sungai yang melingkar, menetes perlahan seperti embun yang enggan jatuh ke bumi.
Masyarakat akan menatapnya dengan keheranan, bertanya-tanya mengapa langit di kanvasnya melengkung seperti gelombang dan wajah manusia terpecah seperti cermin yang jatuh ke batu. Tetapi Dalí hanya akan tersenyum, sebab ia tahu—dunia ini bukanlah apa yang tampak, melainkan apa yang dirasakan oleh hati yang merdeka.
Ia akan menggambar jam yang meleleh di bawah sinar rembulan, karena ia paham bahwa waktu bukanlah rantai, melainkan nafas yang menguap ke angkasa. Ia akan melukis kuda dengan kaki setinggi pohon aren, sebab ia tahu bahwa batasan hanya ada bagi mereka yang takut untuk bermimpi. Dan dalam setiap sapuan kuasnya, ada jejak kabut Sinabung, ada gemuruh lembah yang berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh jiwa-jiwa yang berani mengembara.
Ketika namanya akhirnya menggema di penjuru dunia, ketika para pencinta seni menatap karyanya dengan kebingungan dan kekaguman, Dalí akan tetap kembali ke tanah asalnya. Sebab ia tahu, akar tidak bisa dicabut dari tanah tanpa kehilangan jiwanya. Dan diantara ladang yang diterpa cahaya senja, ia akan berbisik kepada angin,
“Dunia bukan untuk dimengerti, melainkan untuk dirasakan. Dan aku hanyalah pelukis yang mencoba menerjemahkan suara angin ke dalam warna yang bisa kau lihat.”