Kolom Aditya W. Gintings: Warisan Dari Istana Sunyi --
Di sebuah negeri yang dibangun dari peluh petani dan doa ibu-ibu, berdirilah istana dengan tiang-tiang janji dan jendela harapan. Seorang lelaki sederhana pernah duduk di tahtanya, menjanjikan revolusi, dan menyalakan api bagi rakyat kecil yang lelah berjalan dalam gelap.
Ia membuka jalan, membangun jembatan, membelah gunung, agar anak-anak desa bisa mencium aroma kota tanpa harus lupa bau sawah.
Tapi saat jalan itu selesai dibangun, yang pertama lewat adalah truk-truk besar milik para raksasa dagang. Rakyat bersorak di pinggir jalan, tapi pundi-pundi tak pernah sampai ke tangan mereka.
Maka datanglah seorang yang lain, dengan dada penuh gelora dan mata yang tak ingin diam.Ia melihat luka yang disembunyikan di balik statistik. Ia mendengar jerit petani dalam tumpukan beras oplosan. Ia menyebutnya: SERAKAHNOMICS, ilmu ekonomi tanpa nurani, dagang tanpa cinta, kaya tanpa batas dan rasa malu.
Tapi negeri ini bukan sekadar soal siapa yang bicara lantang. Melainkan tentang siapa yang berani menyingkap tirai kebiasaan. Sebab keserakahan yang dibiarkan, akan tumbuh seperti akar beringin — dalam diam, tapi mencekik.
Wahai para pemimpin, warisan bukan hanya batu dan baja, tapi juga nurani yang ditinggalkan dalam sistem dan jiwa bangsa. Jangan tinggalkan kami dengan jalan mulus, jika yang melintas hanya mereka yang haus menumpuk emas.
Sebab kami, rakyatmu, lebih memilih tanah berlumpur dengan harga adil, daripada jalan tol menuju ketidakadilan yang mewah.