Kolom Alvian Fachrurrozi: Dua Perspektif Progresif Di — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Alvian Fachrurrozi: Dua Perspektif Progresif Di

Budaya ·
Kolom Alvian Fachrurrozi: Dua Perspektif Progresif Di

Di Indonesia ada dua jenis komunitas intelektual yang berpikiran paling maju atau progresif, yaitu komunitas progresif yang berhaluan liberalisme dan komunitas progresif yang berhaluan marxisme. Meski sama-sama kaum yang berpikiran maju dan berorientasi masa depan, akan tetapi pandangan dunia mereka sangat jauh berbeda.

Misalnya saja respon dan penyikapan mereka tentang hal-hal tradisional dan ancient wisdom semacam agama atau budaya.

Kelompok progresif yang liberal pada umumnya cenderung mengambil pendekatan "yang mencurigai" atau lebih melihat ekses negatifnya dari agama dan budaya. Sementara itu kelompok progresif yang Marxis pada umumnya cenderung mengambil pendekatan "simpatik" atau lebih melihat ekses positifnya dari agama dan budaya.

Mungkin pengamatan saya ini bisa dikatakan paradoks atau bias, karena pada faktanya beberapa varian Marxisme di beberapa negara komunis malah menindas agama dan budaya. Sementara itu beberapa negara liberal di Eropa malah sangat permisif terhadap agama dan budaya para imigran. Akan tetapi, sekali lagi, saya hanya mengamati dalam "konteks Indonesia", bukan dalam konteks global.

Di Indonesia justru kaum liberal yang sering tampil "galak" dan "menghardik" (meski hanya dalam diskursus wacana) terhadap kaum agama dan kaum konservatif tradisional; baik itu sejak era politik etis Hindia Belanda yang berusaha "mem-belanda-kan" atau "membaratkan" kaum pribumi, era Orde Baru Suharto yang USA-centris dan menindas kaum kalangan Penghayat Kepercayaan maupun kalangan Islam (terutama NU era Gus Dur).

Lalu era JIL (Jaringan Islam Liberal) yang kontroversial di tahun 2000an, dan juga sampai hari ini di era medsos banyak kita jumpai kaum liberal yang selalu nyinyir terhadap rakyat kecil penganut agama atau penganut kepercayaan tradisional. Tetapi mulutnya diam dan nalarnya bungkam saja melihat negaranya diobrakabrik oleh ulah para priyayi politikus tengik.

Sementara itu justru kaum Marxis yang saya amati sering "merangkul" dan "ramah" terhadap kaum agama dan kaum konservatif tradisional, baik itu sejak era Tjokroaminoto dengan Sarekat Islam dan gagasan Sosialisme Islam, Haji Misbach dengan media Islam Bergerak yang sangat berspirit "merah". Sukarno dengan gagasan Api Islam dan Nasakom, LEKRA yang banyak mengambil seni kebudayaan tradisional lalu ditambahkan aspek revolusionernya, dan juga sampai hari ini beberapa aktivis muda NU (terutama sebagian kader PMII) juga berusaha mengawinkan nilai-nilai perjuangan Marxisme dengan doktrin Islam Aswaja.

Mengamati dari varian yang dilahirkan oleh komunitas progresif liberal maupun progresif MNarxis ini juga beragam. Jika progresif liberal melahirkan varian seperti; Islam Liberal, Kristen Liberal, Agnostik Sekuler, dan Ateisme, sebenarnya progresif Marxis juga melahirkan varian serupa yang juga sampai ke titik Agnostik Sekuler dan Ateisme itu.

Akan tetapi adalah Agnostik Humanistik dan Ateisme Humanistik, yaitu Agnostik dan Ateis yang tidak memusuhi dan bersitegang dengan kaum agama dan budaya, melainkan bisa bersahabat dan bekerjasama dengan kaum agama dan budaya manapun, demi sebuah visi besar membangun tatanan kehidupan yang lebih berkeadilan.

Jadi demikianlah, jika lensa kaum progresif liberal lebih melihat sebuah agama dari sisi negatif yang berupa dogmatismenya, maka lensa kaum progresif Marxis lebih melihat sebuah agama dari sisi positif yaitu dalam agama ada muatan revolusioner (anti penindasan) dan nilai-nilai penggerak kesadaran sosial.

Bagi mereka yang liberal, mengkritisi dogma agama dan mengolok-olok wong cilik yang bahagia (dan mendapat penghiburan batin) dengan agamanya mungkin sudah dianggap keren, kritis, dan cerminan dari semangat aufklarung (pencerahan). Akan tetapi, bagi mereka yang Marxis, hal seperti itu selain menunjukkan "autisme intelektual" yang tumpul empati dan kecerdasan bersosialnya, juga gencar mengkritisi dogma agama saja itu belum dianggap orang yang berpikiran kritis dan progesif, manakala mulutnya diam saja dan nalarnya bungkam terhadap praktik ketidakadilan sosial dan politik di depan mata.

Bertahun-tahun saya memakai lensa berpikir kalangan progresif liberal itu, tetapi kemudian juga sudah lama saya tanggalkan. Jadi, tolong yang berteman di FB ini jangan masukkan saya lagi ke grup-grup FB yang berkonsentrasi menelanjangi dogma-dogma agama, selain saya sudah bosan dan muak, kesadaran berpikir saya sekarang sudah tidak berada di tahap itu lagi.