Kolom Alvian Fachrurrozi: Jejak — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Alvian Fachrurrozi: Jejak

Budaya ·

Di setiap tempat yang kita datangi, sesungguhnya di situlah kita pernah lahir. Berapa kali sudah kita menjalani siklus ini? Betapa tak terbilang jumlahnya. Kita lahir, mati, dan lahir kembali. Berganti nama, berganti rupa, memainkan peran yang berbeda di panggung kehidupan yang sama.

Dan, di tengah semua itu, ingatan kita terlalu pendek untuk menyadari.

Kita lupa. Lupa bahwa perjalanan ini telah begitu panjang. Lupa bahwa cinta, kehilangan, tawa, dan air mata yang kita alami kini hanyalah pengulangan dari kisah-kisah yang sudah pernah terjadi. Kehidupan seperti roda yang terus berputar, tak kenal henti, menjemput kita untuk kembali lagi, lagi, dan lagi.

Pernahkah kau merasa asing di suatu tempat, tetapi sekaligus akrab? Atau bertemu seseorang yang tak kau kenal, tetapi ada rasa hangat yang sulit dijelaskan? Itu bukan kebetulan. Itu adalah jejak samar dari kehidupan yang dulu. Bayangan yang muncul sejenak, hanya untuk menghilang sebelum sempat kita genggam.

Namun, ada yang lebih dalam dari sekadar lahir dan mati. Ada rahasia yang terpendam di balik siklus tanpa akhir ini. Dan betapa beruntungnya kita, jika dalam kelahiran kali ini, kita bertemu dengan pengajaran batin para Buddha.

Pengajaran para Buddha itu seperti matahari di tengah kabut. Ia tak memaksa, tak membakar, tetapi perlahan-lahan menghangatkan jiwa yang telah terlalu lama terjebak dalam kegelapan. Sang Jalan yang dibabarkan oleh Buddha itu adalah peta yang menunjukkan bagaimana melampaui roda kelahiran dan kematian.

Kehidupan ini penuh dengan godaan—warna-warni yang memesona, suara-suara yang memanggil, kesenangan yang menipu. Tetapi semua itu hanyalah bayangan. Mereka datang, lalu pergi. Yang nyata adalah perjalanan batin, langkah demi langkah menuju kebebasan.

Sungguh sebuah anugerah besar untuk bisa menemukan jalan batin para Buddha, sebab tidak semua jiwa sudah mendapatkan kesempatan dalam mempelajari dhamma para Buddha. Banyak yang terjebak dalam ilusi, mengira dunia ini adalah akhir dari segalanya. Padahal, kehidupan ini hanyalah perhentian singkat dalam perjalanan panjang menuju pembebasan.

Dan di tengah perjalanan ini, ada momen-momen di mana kesadaran muncul. Saat langkah kita terasa ringan, saat hati kita penuh welas asih, saat kita memandang dunia dengan mata yang baru. Di momen-momen itulah, kita menyadari bahwa kehidupan ini bukan tentang melawan arus, melainkan tentang mengalir bersamanya dengan penuh kesadaran.

Pada akhirnya, semua kelahiran dan kematian ini hanyalah cangkang, hanya bagian luar dari apa yang sejatinya kita cari. Yang abadi (Sang Kesadaran) ada di dalam, di pusat yang tak pernah bergerak, di tempat di mana kita akhirnya menemukan rumah sejati.

Dan hingga saat itu tiba, hanya satu yang perlu diingat: berjalanlah dengan sadar. Setiap langkah di dunia ini bukanlah kebetulan. Setiap tempat yang kita pijak adalah jejak langkah dari perjalanan panjang yang sedang kita tempuh. Di setiap tempat, kita pernah lahir. Dan mungkin, kali ini adalah kesempatan untuk tidak lahir kembali.

Jenjarom-Malaysia, 27.01.2025