Kolom Alvian Fachrurrozi: Kesadaran, Mabok Dogma Dan
Majapahit surut atau sirna ilang kertaning bumi terjadi pada tahun 1478 dan, 430 kemudian, lahir organisasi Boedi Oetomo. Besar kemungkinan para pendiri Boedi Oetomo dulu membaca serat-serat seperti Dharmagandul dan Sabda Palon yang menubuatkan bahwa, setelah 500 tahun kehancuran Majapahit akibat invansi semacam partai PKS (Islam Politik) di jaman itu, akan tersebar gerakan "agama Budi"; yaitu "agama kesadaran" yang berlawanan dengan agama-agama yang menghilangkan kesadaran alias kerap membuat pengikutnya mudah mabok kesurupan dogma.
Sehingga pendirian organisasi Boedi Oetomo bisa ditenggarai untuk persiapan menyambut persebaran massif agama Budi itu di Tanah Air (karena sudah mendekati titi mangsanya 500 tahun setelah surutnya Majapahit).
Oleh karena itu, nama organisasinya juga dinamai Boedi Oetomo (kesadaran yang utama). Akan tetapi, deretan-deretan pertanyaan yang penting sekarang ini, apakah agama Budi itu? Apakah sebuah merk lembaga keagamaan tertentu seperti Buddhisme misalnya yang ada kemiripan etimologi antara "Budi" dan "Buddha"? (Padahal dalam Buddhisme sendiri seperti juga halnya dalam agama lain, ada pula aliran yang sangat dogmatis dan penuh balutan tahayul etnik tertentu).
Jika 500 tahun setelah sirna ilang kertaning bumi berarti itu merujuk pada tahun 1978. Nah, katakanlah saja sejak tahun 1980-an ke atas telah terjadi peristiwa penting atau "revolusi kesadaran", semacam apa yang terjadi di negeri ini.
Dan, apakah masyarakat kita hari ini (terutama para pejabatnya) dalam berbangsa dan berspiritualitas sudah semakin berbudi/berkesadaran, atau justru dalam berbangsa "mabok kekuasaan" dan dalam berspiritualitas "mabok dogma"? Satu lagi, apakah elok sebuah bangsa yang mabok dan mengalami kejatuhan dengan memiliki pemimpin-pemimpin yang dungu merayakan kebangkitan nasional?