Kolom Alvian Fachrurrozi: Namaskara Pada Maulana Jalaluddin — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Alvian Fachrurrozi: Namaskara Pada Maulana Jalaluddin

Budaya ·
Kolom Alvian Fachrurrozi: Namaskara Pada Maulana Jalaluddin

Seperti para pertapa di jalur Buddhisme, kaum Sufi dalam berbagai metode laku suluknya itu sebenarnya juga berusaha mengembangkan kesadaran yang tajam dan batin yang jernih. Tetapi, metode yang mereka gunakan memang lebih pada penekanan hubungan langsung dengan Tuhan (makrifat ) melalui pengalaman mistik. Jika para samana (bhikkhu ) dan Yogi mengembangkan kesadaran sebagai alat untuk menembus realitas Dhamma, maka para Sufi mengasah kesadaran mereka untuk menghilangkan hijab-hijab batin yang menghalangi mereka dari hakikat Ilahi.

Dalam Sufisme Islam ada jalur zuhud (asketisme) yang mendekati dengan praktik samana dalam tradisi Buddhis, di mana seseorang berusaha untuk melepaskan diri dari keterikatan material demi mendisiplinkan batin.

Seorang pejalan Sufi yang memilih jalan ini akan menjalani hidup dalam kesederhanaan, menghindari hura-hura kesenangan, dan menahan diri dari keinginan-keinginan jasmani yang dapat mengaburkan kejernihan batin.

Akan tetapi, berbeda dengan para pertapa Buddhis yang bertumpu pada pengembangan kesadaran diri secara mandiri. Seorang Sufi wajib berbaiat atau mengikatkan diri untuk berada dalam bimbingan secara intensif dengan seorang mursyid (guru spiritual).

Dalam Sufisme, hubungan hierarkis dengan seorang guru dianggap penting karena diyakini bahwa pencerahan spiritual lebih mudah dicapai dengan transfer "barakah " (berkah) dari seorang wali yang diyakini telah lebih dahulu mencapai makrifat.

Sementara dalam Buddhisme, meskipun seorang acariya (guru) atau kalyanamitta (teman spiritual) bisa membantu dalam hal pengajaran, tetapi dalam hal pencapaian buah spiritual, tetap sepenuhnya bergantung pada latihan individu yang bersangkutan.

Juga persamaannya lagi antara jalan asketisme Buddhis dengan jalan asketisme Sufi, baik para samana Buddhis maupun salik Sufi sama-sama menjalani latihan disiplin yang ketat untuk mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.

Seorang sufi seperti Jalaluddin Rumi atau Ibn Arabi melakukan riyadhah (latihan spiritual) yang bisa berupa puasa, dzikir panjang, atau khalwat (menyepi/retret) dalam waktu lama, sebagaimana seorang pertapa Buddhis melakukan meditasi dalam keheningan hutan.

Akan tetapi perbedaannya, dalam Sufisme, pengalaman mistik sering kali dipandang sebagai anugerah yang datang dari Tuhan, bukan semata hasil upaya olah spiritual individu. Jelasnya, baik dalam Buddhisme maupun dalam Sufisme, jalan spiritual itu bukanlah sekadar pencarian intelektual atau jalan filsafati, melainkan adalah transformasi batin/eksistensial yang mengubah seseorang secara fundamental.

Seorang Yogi Buddhis yang telah mencecap buah dari pencerahan tidak akan lagi melihat dunia dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Demikian pula seorang Sufi yang telah mencecap buah dari makrifat, ia akan melihat dunia sebagai pantulan kehadiran Ilahi.

Maka sebenarnya apakah seseorang memilih meniti jalan spiritual Buddhis atau jalan spiritual Sufi, keduanya sama-sama menuntut disiplin asketik, keheningan batin, dan keberanian untuk menembus batas-batas pengalaman manusia biasa. Yang menjadi pertanyaan utama bukanlah jalur mana yang lebih benar, tetapi apakah seseorang benar-benar siap untuk menempuh perjalanan menuju pencerahan dengan kesungguhan yang sejati.

Lalu kenapa kau Alvian memilih jalur Buddhisme daripada jalur Sufisme? Jika ada yang bertanya demikian, maka inilah jawabanku:

Saya sejak dulu mengagumi kaum Sufi terutama Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, dan para wali yang menjalani laku suluk dengan penuh ketulusan. Saya membaca kisah-kisah mereka dengan penuh kekaguman. Tetapi, meskipun saya mengagumi Sufisme, saya tidak dapat benar-benar cocok menapaki jalannya, karena ada sesuatu dalam Buddhisme yang menurut saya lebih selaras dengan cara saya memahami realitas.

Selain itu, saya juga tidak ingin menyerahkan perjalanan spiritual saya kepada seorang mursyid yang umumnya berwatak hierarkis-feodalis. Bukan karena saya congkak menolak bimbingan, tetapi karena saya lebih percaya bahwa pencerahan harus dicapai melalui upaya diri sendiri (tidak harus selalu bergantung pada sosok guru di luar diri).

Dalam Buddhisme, Sang Buddha sendiri telah menunjukkan bahwa seseorang harus berjalan dengan kakinya sendiri, menyalakan pelita dalam batinnya sendiri. Dalam hal ini, saya lebih cenderung kepada ajaran Buddha yang menekankan tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali usaha kita sendiri.

Meski demikian saya tidak pernah melihat Buddhisme dan Sufisme itu sebagai dua jalur yang harus diperbandingkan secara "antagonistik". Saya percaya bahwa keduanya memiliki keindahan dan kedalaman yang unik. Hanya saja, ketika saya merenungkan di mana saya menemukan ketenangan dan kejelasan batin, saya mendapati bahwa jalan Dhamma lebih sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial saya.

Oleh karena itu, saya memilih Buddhisme bukan karena saya menolak mentah-mentah Sufisme. Saya tetap tidak melupakan jika cakrawala spiritualitas saya telah diperkaya oleh Sufisme. Saya juga tetap mengagumi (dan bahkan bernamaskara) pada Maulana Jalaluddin Rumi.

Bahkan sebaliknya saya tidak sudi mengagumi dan apalagi hormat namaskara pada para anggota monastik Buddhisme Heterodoks yang jubahnya saja yang besar tetapi disiplin asketik dan laku meditasinya "nol"—sesuatu yang jelas melencengkan substasi ajaran spiritual Buddha Gautama.