Kolom Alvian Fachrurrozi: Tentang Ndas -- Di Mata Orang — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Alvian Fachrurrozi: Tentang Ndas -- Di Mata Orang

Budaya ·
Kolom Alvian Fachrurrozi: Tentang Ndas -- Di Mata Orang

Ndas atau kepala dalam Kebudayaan Jawa merupakan anggota tubuh yang dijunjung paling tinggi melebihi anggota tubuh yang lain. Orang Jawa dapat diam mengalah kau injak kakinya. Orang Jawa dapat memilih menyingkir kau dorong badannya. Akan tetapi jangan sekali-kali kau jitak kepala orang Jawa sekalipun hal itu dilakukan dalam konteks bercanda.

Orang Jawa akan langsung ngamuk dan mengajakmu berduel.

Dalam catatan pengelana Portugis Jono de Barros pada abad 16: "Orang Jawa itu angkuh, berani, berbahaya dan pendendam. Kalau tersinggung perasaannya sedikit saja, terutama kalau disentuh kepala atau dahinya, terus mengamuk membalas dendam."

Seorang pengelana Portugis yang lain, Diego de Couto juga melaporkan watak orang Jawa: "Orang Jawa tak akan sudi menyunggi beban di atas kepalanya, biarpun dia diancam dengan ancaman maut. Mereka adalah pemberani dan penuh keyakinan diri dan hanya karena penghinaan kecil saja bisa melakukan amuk untuk balas dendam. Dan meskipun dia telah ditusuk-tusuk dengan tombak sampai tembus, mereka akan terus merangsek maju sehingga dekat kepada lawannya."

Catatan dari dua pengelana Portugis itu mungkin memang agak berlebihan atau juga karena mereka sebagai pengikut Yesus yang terbiasa mendengar doktrin jika ditampar pipi kanan berikan pipi kiri tentu tercengang dengan kebudayaan orang Jawa yang menganggap kepala sebagai mahkota yang tidak sembarangan orang boleh menyentuh. Apalagi kok sampai menawarkan ditampar dua kali.

Akan tetapi, menurutku, catatan dua pengelana Portugis itu tidak sepenuhnya salah. Sampai sekarang orang Jawa yang masih memegang ke-Jawa-annya juga akan langsung tersinggung dan marah ketika ada orang lain yang tanpa sebab menyentuh kepalanya (hanya sekadar menyentuh belaka).

Jaman sekolah dulu saya punya teman yang orangnya pendiam, ia biasa dibully dan diejek oleh teman-teman sekelas tetapi responnya hanya anteng-anteng dan diam saja. Tetapi, ada suatu waktu ia "dijenggung" (didorong kepalanya) oleh salah seorang pembully. Di luar dugaan, responnya juga langsung ngamuk mengerikan. Ia langsung menghajar memukuli bertubi-tubi si pembully yang njenggung tadi sampai "klenger" (mau pingsan).

Melihat dari sini, mungkin itulah sisi gelapnya orang Jawa yang diwarisi dari DNA leluhurnya sejak berabad-abad silam, meski secara stereotip sosial orang Jawa itu dikenal perasaannya halus, santun, dan memiliki manner yang tertata.

Akan tetapi sebenarnya jika dipikir-pikir, penghormatan khusus orang Jawa pada organ kepala itu tidak didasarkan pada hal tahayul atau hal mistik, melainkan pada hal yang sangat rasional; kepala adalah organ yang sangat penting karena di dalamya ada otak yang merupakan organ paling penting dan paling vital yang dimiliki oleh manusia.

Sedikit saja otak di dalam kepala mengalami error atau bermasalah, maka hilanglah segala akumulasi kecakapan, kecerdasan, memori, pengetahuan, dan bahkan kesadaran yang dimiliki oleh manusia.

Untuk itu menempatkan kepala sebagai organ yang paling sakral dan paling terhormat, semestinya adalah hal yang sangat masuk akal bagi kelompok manusia yang bisa berpikir.

Karena itu pula lah dalam Kebudayaan Jawa makian "ndasmu" (kepalamu) bisa ditenggarai sebagai makian paling kasar dan paling tak beradab yang pernah ada. Dengan makian ndasmu itu secara implisit berarti melecehkan kepala, melecehkan otak, dan melecehkan intelektualitas. J

ika ada tokoh atau pejabat publik yang dengan tak beradab dan enteng-entengan mudah mengatakan "ndasmu" itu secara alegoris dapat dibaca sebagai sosok yang anti intelektualitas, anti ilmu, anti pengetahuan, dan tentu saja anti berpikir atau dengan kata lain: sosok ultra goblok! Maka jangan diharapkan ia bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang cerdas dan tepat berdayaguna. https://www.youtube.com/shorts/uvtGA21eYCM