Kolom Aspipin Sinulingga: Dari Sigedang Ke Kuta Tingger Dan
Aku adalah seorang Karo keturunan Marga Sinulingga dari Sigedang yang Hijrah ke Pamah Tambunan, dekat Tanjung Langkat (Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat). Bapakku bernama Sabar Sinulingga, anak ke dua dari kakekku yang bernama Lengleng Sinulingga. Kakekku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara; dua laki-laki dan satu perempuan.
Orangtua kakekku bernama Nganjong Sinulingga yang dalam Bahasa Karo kami menyebutnya Bulang Empong (Kakek Buyut).
Bulang Empung inilah yang hijrah seorang diri dari Sigedang (Kabupaten Dairi) ke Pamah Tambunan, Langkat, sekitaran tahun 1890an. Di Pamah Tambunan, tepatnya di suatu kampung yang bernama Kuta Tingger kakek empung menikahi anak perempuan Penghulu Kuta Tingger bermarga Ginting Tingger (Tumangger). Dari pernikahan itulah lahir kakekku, abang, dan kakak dari kakekku.
Sebagai keturunan Suku Karo, kami diajarkan bahwa kebudayaan dan identitas komunal yang kami warisi dinamakan Karo; Adat dan Kesukuan. Informasi ini secara turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, harus diakui, ada semacam propaganda aneh yang mensosialisasikan Suku Karo sebagai turunan dari suku yang disebut Batak, padahal kedua kelompok kebudayaan sama sekali berbeda. Propaganda itu belakangan ini populer disebut PEMBATAKAN dan memang realitasnya terjadi.
Pembatakan faktualnya merugikan secara nyata bagi Suku Karo dalam segala hal. Aset-aset kebudayaan yang harusnya dikenal sebagai milik Masyarakat Karo pada akhirnya dianggap publik global sebagai aset kebudayaan kelompok lain yang bahkan tidak mengerti apa apa terkait produk kebudayaan itu.
Bukan berarti dinamika ini terjadi secara kebetulan, namun klaim tersebut dilakukan kelompok Batak secara massif dan terorganisir. Realitanya dengan mudah publik terkecoh berpikir bahwa personal Karo yang berprestasi adalah seorang Batak, walau si personal tidak memperkenalkan diri sebagai Batak.
Betapa kita bisa melihat kenyataan bahwa hampir seluruh masyarakat di Indonesia keliru menyangka Batak dan budayanya adalah budaya asli Kota Medan, bahkam Sumatera Utara. Padahal Batak adalah kelompok pendatang yang hijrah ke Kota Medan selama era Kolonial (912-1950) dengan harapan dapat memperbaiki hidup di Kota Medan.
Kota Medan sendiri dalam sejarah dan kroniknya berawal dari perkampungan yang didirikan oleh seorang dukun sakti dari Suku Karo yang dikenal dengan gelar Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Perkampungan Medan itu sendiri didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi di wilayah kekuasaan Raja Urung Karo, XII Kuta.
Aneh jika masyarakat berpikir bahwa Medan identik dengan Batak, bukan lagi Melayu Deli apalagi Karo. Aneh jika publik menyapa Medan dengan salam Horas, jelas melecehkan akar kebudayaan dan kearifan lokal Medan itu sendiri.
Minusnya etika mungkin menyebabkan kesalahan ini dianggap lumrah, bahkan orang-orang Batak semakin bersemangat mempropagandakannya; HORAS MEDAN....
Dituduh SARA atau Chauvinish?
Lha bukannya Yesus dan Muhammad SAW dahulu juga dituduh sesat dan menyesatkan? Dituduh kolot karena bicara kebudayaan di era modernisasi dan tekhnologi? Jika anda bermimpi untuk menjadi golongan yang bercita-cita hijrah ke bulan, ketahuilah bahwa padi dan jeruk tidak tumbuh di sana, bahkan anda tidak akan bisa kencing dengan tenang di sana.
Maka Aku memilih menjadi "orang bodoh kolot" dalam versi tuduhan pembatak karena membicarakan Klarifilasi Klaim Kebudayaan yang dilebeli para pembatak dengan istilah Karo Bukan Batak KBB.
Begitulah, tentang kebudayaan kadang kita melihatnya seolah merupakam suatu masalah yang tidak vital untuk digali dan diskusikan, namun justru sebaliknya; kebudayaan adalah jalan keluar dari realitas hari ini yang terasa semakin absord karena tenggelam ke dalam polarisasi yang tendensius beraroma konflik politik kekuasaan dengan; AGAMA sebagai doktrin pembelahnya.
Bagiku, menyampaikan dan mengajak Masyarakat Karo untuk kembali mengenal dan memperkenalkan Karo sebagai Society sekaligus Identity komunal kami adalah cara menyelamatkan pruralitas dan tenggang rasa Sumatera Utara dari titik nadir etikanya.
KARO BUKAN BATAK TIDAK HANYA MERUPAKAN GERAKAN KLARIFKASI KEBUDAYAAN, NAMUN JUGA SUATU GERAKAN MORAL YANG MENOLAK GENERALISASI KULTUR YANG MEMBAGI MASYARAKAT SUMATERA UTARA MENJADI DUA KUTUB BERTENTANGAN DALAM RUANG KONFLIK KEKUASAAN; BATAK - MELAYU ; KRISTEN - ISLAM.
Karo Bukan Batak adalah Gerakan Moral Etis yang berupaya memulihkan norma pergaulan antar kelompok kebudayaan ke ruang saling menghormati tanpa obsesi hegemoni apalagi sentimen religi. Karo Bukan Batak adalah suplemen kesadaran yang menyelamatkan persatuan kebangsaan dari CABIKAN CAKAR AMBISI KEKUASAAN PELAKU POLITIK IDENTITAS.
Karo Bukan Melayu = Karo Bukan Batak. https://www.youtube.com/watch?v=4X9O2epUlJ4&t=22s