Kolom Aspipin Sinulingga: Salam Horas Dan Batak Tidak Layak
Purpur sage (ritual perdamaian cara Karo) telah tuntas dilaksanakan di Kabanjahe antara penggiat identitas Karo yang dilebeli kelompok Karo Bukan Batak (KBB) dan managemen Indomaret. Pihak Indomaret meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan pihaknya terkait pemasangan stiker "horas " dan "mauliate " di pintu-pintu masuk Indomaret seluruh wilayah Kabupaten Karo.
Ini gerakan moral, rasa cinta terhadap kebudayaan mendorong kami menegur pihak Indomaret terkait stiker horas dan mauliate yang dipasang di pintu-pintu toko Indomaret se Kabupaten Karo.
Apa tujuan Indomaret melakukan itu jika tidak sebagai bagian dari upaya mempopulerkan budaya dan menjadikan horas simbol Sumatera Utara? Maka pertanyaannya, layakkah Batak dan salam horas nya jadi simbol Sumatera Utara?
Jika berbicara dari perspektif kebhinekaan dengan jujur tentu tidak mungkin tidak menjawab, horas dan Batak bukan simbol Kebudayaan Sumatera Utara karena horas dan Batak hanya salah satu bagian kecil dari keragaman budaya di daerah ini.
Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Horas itu Budaya Batak, besarkan dia di Tanah Batak,
Medan, Deliserdang, Karo, Binjai - Langkat itu bukan Tanah Batak, tidak berbudaya Batak, dan tidak mungkin dipresentasikan dengan simbol-simbol Batak. Mungkin akan ada tuduhan SARA - rasis - intoleran - atau primordial atas tulisan ini. Tapi coba lihat, dari 4 jari si penuduh itu, 3 jari mengarah langsung ke mereka yang menuduh tulisan ini intoleran. https://www.youtube.com/watch?v=wo-PUYp5s4A