Kolom Bastanta P. Sembiring: Di Sekitar Kita Banyak Bisa — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Bastanta P. Sembiring: Di Sekitar Kita Banyak Bisa

Budaya ·
Kolom Bastanta P. Sembiring: Di Sekitar Kita Banyak Bisa

Membaca Kolom Salmen S. Kembaren yang berjudul "Penganan Liar Bergizi Di Masa Kanak-kanak" di Sora Sirulo atas tanggapannya terhadap tulisan Mama Juara R. Ginting tentang “memakan serangga”, turut mengembalikan sebagian ingatan masa kecil saya. Banyak kegiatan, juga yang dimakan pada masa itu yang mungkin sulit untuk diulang kembali.

Saya lahir di Kota Medan, namun tumbuh besar di Patumbak. https://www.sorasirulo.com/kolom-salmen-s-kembaren-penganan-liar-bergizi-di-masa-kanak-kanak/

Patumbak adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Deli Serdang (Provinsi Sumatera Utara) yang dalam sejarah dulunya pernah menjadi Ibukota Urung Senembah, sebuah negeri/kerajaan Urung Suku Karo di Taneh Karo bagian jahe (hilir). Patumbak juga berbatasan langsung dengan Kota Medan di bagian Selatan ibukota Provinsi Sumatera Utara tersebut.

Di pinggir sungainya (Lau Seruai) masih banyak bebatuan, banyak juga di bibir sungai tumbuh pohon enau, gelugur, manggis, bambu, dan sebagainya.

Saat liburan sekolah saya lebih banyak habiskan waktu di Namorambe (Deli Serdang). Di era 1990-an hingga pertengahan 2000-an, Patumbak masih cukup asri. Dikelilingi kebun kelapa sawit dan kakao (coklat) milik PTPN, juga tanah-tanah rakyat yang masih banyak ditumbuhi pepohonan. https://www.sorasirulo.com/menghargai-kelebihan-budaya-sendiri-bagaimana-bisa-tanpa-mengenal-budaya-suku-suku-lain/

Saya ingat dulu jika ada orang satu kuta (sekampung) yang mburtas tambak (mengeringkan kolam), kami saling mengundang. Kami pun datang untuk ndurung (menangkap ikan) dan manggang-manggang ikan.

Selain ikan mas yang memang sengaja ditangkarkan, semua isi kolam itu boleh ditangkap dan dibawa pulang. Ada ikan badao (gabus), cibakut (lele kampung), mujahir, cepat siam, udang sawah, berbagai jenis keong sawah, dan lain-lain.

Saat orang dewasa manggang ikan, kami pilih manggang keong sawah, udang dan serangga-serangga. Bagi anak-anak bukan soal apa yang didapat dan dimakan, tetapi bermain lepas itu yang membuat senang.

Sekitar kolam juga sering ada rumpun pohon rumbia (sagu). Kami cari buahnya yang berjatuhan. Buahnya seperti buah salak, punya kulit yang bersisik dan daging yang bisa dimakan seperti rasa buah salak juga, ada manis-manisnya dan sepat (kelat dan kesat di lidah).

Pohon rumbia yang busuk juga tempat hidup kidu dan kayat (ulat yang suka hidup di kelapa, kelapa sawit dan rumbia), itu juga enak dipanggang. Di bawah kumpulan pohon rumbia juga sering ada air tergenang yang tidak kering-kering.

Di sana juga hidup berbagai hewan yang salah satunya ikan cupang (laga). Di pinggirnya sering tumbuh paku (pakis) yang pucuknya (yang muda) sangat lezat untuk dimakan baik mentah maupun dimasak.

Di tubuhan pakis juga sering ada serangga dan kami juga sering tangkap dan bakar untuk dimakan. Kami juga suka cari buah tumbuhan senduduk yang manis dan meninggalkan warna merah. Kadang berwarna jingga di lidah dan di bibir.

Kami menyebutnya 'jagoan neon' karena saat itu populer permen yang meninggalkan warna di lidah dan di bibir yang bernama 'jagoan neon'.

Buah depuk-depuk (cepluk) dan gambut (markisah kecil) yang manis dan banyak tumbuh di pinggir sawah menjadi favorit dalam perburuan makanan. Ada juga akar ilalang yang kami sebut rih dalam Bahasa Karo, rasanya manis jika dikunyah. Belakangan ini akar ilalang juga populer sebagai obat panas dalam, dan menyembuhkan beberapa penyakit lainnya.

Ada juga tumbuhan liar menjalar di tanah yang dau dan buahnya rasa asam. Sayangnya, saya lupa namanya dalam Bahasa Karo dan tidak tau apa Bahasa Indonesianya. Jika terluka masa itu jarang anak-anak yang mengadu atau mengeluh ke orangtuanya. Semua jadi makanan dan juga semua jadi obat.

Saya ingat untuk menghentikan pendarahan sering kami ambil tanah dan dikasi air liur diaduk-aduk sampai menjadi lumpur lalu ditempel di luka yang berdarah. Atau ambil dedaunan apapun yang ada di sekitar lalu diremas-remas dengan air liur dan ditempelkan ke luka.

Makanya jarang orangtua tau kalau ada anaknya yang terluka, kecuali jika lukanya parah atau semakin parah. Tetapi pernah juga kami sial. Tentunya kita mengenal kolang-kaling walau tidak semua kita tau asalnya bagaimana. https://www.youtube.com/watch?v=rURXeB2eI5A

Itulah yang membuat kami merasa sial. Saat itu kebetulan juga di Bulan Ramadhan, tentu kolang-kaling menjadi makanan yang populer saat itu. Kebetulan pula tidak jauh dari gedung sekolah (SD) kami ada pengerajin kolang-kaling.

Kami lihat bagaimana kolang-kaling itu dikeluarkan dari kulit/ cangkang buah batang enau/aren yang kebetulan di sawah ada pohon enau yang belum begitu tinggi dan memiliki banyak tandan buah.

Bersama teman-teman saya singgah di sawah sepulang sekolah. Kami jatuhkanlah buah enau tadi dan kami pukul-pukul dengan kayu dan batu untuk mengeluarkan buah kolang-kalingnya.

Tidak jarang kami kupas dengan tangan dan sesekali dengan bantuan gigi (digigit). Setelah kolang-kaling itu keluar kami gigit pula, dan... he-he-he pembaca yang paham pasti tau apa selanjutnya yang terjadi.

Kami berlarian melompat ke kolam. Sangkin gatalnya tak tertahan kami berlarian ke rumah masing-masing seperti orang yang kesetanan.

Saya ingat saat itu 2 botol balsem habis saya gosokan ke seluruh tubuh. Itu menjadi pengalaman dan kenangan yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan. Kenangan ini kadang membuat saya berpikir mengapa banyak kita yang tidak segan-segan merusak alam. Apakah mungkin karena dia tidak memiliki kenangan dengan alam ini?!

Mejuah-juah INDONESIA https://www.youtube.com/watch?v=ARyjRj7ZArM