Kolom Bastanta P. Sembiring: Kedai Kopi Di โ€” Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Bastanta P. Sembiring: Kedai Kopi Di

Budaya ·
Kolom Bastanta P. Sembiring: Kedai Kopi Di

Di ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข-๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข (perkampungan) Suku Karo bahkan hingga ke perantauan yang banyak berdiam warga Suku Karo, setidaknya kita akan menemukan minimal 2 kedai kopi. Sekecil apapun perkampungan itu akan kita temui setidaknya 2 kedai kopi. Ini berkaitan dengan budaya ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ dan ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ฆ di Masyarakat Suku Karo.

Agar orang-orang terpisah atau tidak bertemu di kedai kopi yang sama dengan ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข.

Misalkan, kalau ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ tau bapak mertuandu sering duduk misal di Kedai Kopi Kawar, maka kam menghindarinya dengan pergi ke kedai kopi lainnya, misalkan ke Kedai Kopi Mangkok, Kedai Kopi Gantang, atau ke Kedai Kopi Cinor, dsb. Lihat juga ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ/๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ (pemandian umum) di Karo, contohnya Pancur Lau Bahing di Bintang Meriah (Kecamatan Kuta Buluh, Kabupaten Karo) dimana di bagian ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช (lelaki) dibagi menjadi dua bagian.

Dari sini (kasus kedai kopi dan ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ/๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ yang dibagian ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช dibagi) kesimpulan apa kira-kira dapat kita tarik?

Lanjut soal kedai kopi. Menurut Antropolog Juara R Ginting, kedai kopi di Karo itu sudah ada setidaknya sejak era kolonial, namun belum begitu menjamur merasuk ke permukiman warga, hanya di tempat-tempat pasar dan beberapa pusat keramaian di kota.

Setelah kembali dari ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ช (pengungsian) akibat politik ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข (bumi hangus) di masa Agresi Militer Belanda (1949) kedai-kedai kopi mulai menjamur di Karo sebagai pusat informasi, utamanya mencari keberadaan sanak saudara yang terpisah saat mengungsi dan berbagi pengalaman selama di pengasingan serta pusat informasi dan sosialisasi dari pemerintah.

Saat ini di Kota Medan khususnya di daerah-daerah Karo, kedai kopi menjamur. Yang awalnya pengunjungnya didominasi oleh orang-orang tua dari kaum lelaki dan sesekali ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ (kaum ibu) dari samping (makanya setiap kedai kopi di Karo selalu ada jendela di samping si penjual/peracik). Kini, pengunjungnya dari kaula muda, tidak hanya pria tetapi juga wanita.

Orang pacaran, bertemu teman, mengerjakan tugas sekolah, tugas kuliah atau kerja juga sekarang di kedai kopi. Apalagi dengan ketersediaan jaringan internet membuat banyak kebutuhan orang-orang dapat dikerjakan di kedai kopi.

Beberapa kali saya minum di kedai kopi di Jl Jamin Ginting sekitaran Sempakata (Medan) bertemu orang asing sepertinya dari Eropa, Amerika, Malaysia dan Cina.

Mejuah-juah INDONESIA