Kolom Bastanta P. Sembiring: Wiracarita Mahabharata & Ramayana -- — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Bastanta P. Sembiring: Wiracarita Mahabharata & Ramayana --

Budaya ·
Kolom Bastanta P. Sembiring: Wiracarita Mahabharata & Ramayana --

Mahabharata dan Ramayana merupakan dua wiracarita (epos) terbesar India Kuno yang ditulis dalam Bahasa Sanskerta. Mahabharata menceritakan kisah perang antara Pandawa dan Kurawa memperebutkan takhta Hastinapura.

Perang ini dikenal dengan perang Kurukshetra ataupun perang Bharatayuddha.

Sedangkan Ramayana merupakan kisah perjalanan Rama hingga terjadi peperangan melawan Rahwana Raja Alengka karena menculik Sinta istri Rama saat sedang melakukan pengasingan di hutan.

Mahabharata banyak memuat filsafat dan peribadatan Hindu serta membahas 4 Tujuan Hidup Manusia (Caturpurusarta) yang meliputi: Darma (kebenaran, nilai-nilai moral), Arta (kemakmuran, kebutuhan pokok), Kama (kenikmatan jasmani-rohani, kasih sayang), dan Moksa (kemerdekaan, nilai-nilai spiritual).

Dengan itu Mahabharata dianggap spesial dan suci bagi pemeluk Hindu dan tidak terpisahkan dalam kehidupan Hindu.

Wiracarita Mahabharata masuk ke Nusantara diperkirakan pada akhir abad 9 Masehi. Khusunya di Jawa dan Bali, banyak kakawin (wacana puisi) dalam aksara/bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang merupakan turunan dari Mahabharata, seperti: kakawin Arjunawiwaha, kakawin Bharatayuddha, kakawin Kŗşņāyana dan lain-lain yang tertulis dalam lembar-lembar daun lontar. Termasuk juga kakawin Ramayana yang merupakan turunan dari Mahabharata (rangkuman Ramayana terdapat juga dalam Mahabharata).

Untuk wiracarita Ramayana, selain ditemukan dalam khazanah sastra, di Jawa dan Bali juga hadir dalam bentuk seni patung, pahat dan ukir; seni lukis, seni tari, dan juga seni peran. Dalam sastra Melayu juga ada Hikayat Seri Rama.

Bagaimana dengan di Karo yang banyak orang bahkan para sarjana berpendapat kalau Suku Karo mendapatkan pengaruh yang kuat dari India dan Hindu. Tidak sedikit yang mengatakan kalau Pemena di Karo itu sama dengan Hindu.

Apakah wiracarita Mahabharata dan Ramayana ini populer atau bahkan apakah dikenal di Karo?

Karo memang pernah menjadi basis Hindu terbesar ke 2 di Nusantara setelah Bali. Itu terjadi di dekade 1980an. Pada masa itu jugalah beberapa pura dibangun di Karo, baik di Karo Gugung ataupu Karo Jahe, seperti di Bintang Meriah, Tanjung Pulo, Pintu Besi, dsb. Masa itu juga PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Karo resmi berdiri. Namun sebelum masa itu, sangat minim sekali temuan yang dapat meyakinkan kita kalau pengaruh Hindu itu kuat sekali terjadi di Karo.

Tidak sedikit orang mengaitkan dengan tradisi kremasi di Karo, yang mengatakan itu merupakan pengaruh Hindu yang dibawa oleh para siar Hindu ke Karo. Anehnya, jika benar memang itu dibawa oleh pengembara siar Hindu ke Taneh Karo lalu kemudian diajarkan ataupun ditiru oleh Orang Karo, mengapa kuburan dan geriten banyak kita temui di Karo?

Lalu, jika tradisi kremasi di Karo dikaitkan dengan Hindu, maka sangatlah aneh jika kita tidak temukan tradisi tersebut di Jawa yang dulunya pernah menjadi basis Hindu di Nusantara. Mengapa hanya Bali dan bertahan hingga sekarang?

Ini semua butuh pengamatan lebih mendalam bukan sekedar wacana dan cocokologi yang banyak beredar. Dalam hal ini saya tidak berani mengambil kesimpulan, maka saya juga mengajak kam yang membaca untuk jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Baiknya kita lebih menggali lebih dalam.

Mejuah-juah INDONESIA https://www.youtube.com/watch?v=U8sVOOhnnTk