Kolom Eddy S. Sembiring: Asal Bapak
Kita tidak melihat ada kebijakan pro rakyat. Kebijakannya lewat MBG, KMP, SR, penambahan jumlah Kodam/TNI adalah sarana melanggengkan kekuasaan atau setidaknya membuatnya merasa berada di dalam gelembung (bubble) kekuaaan.
Ia dikelilingi oleh orang orang yang dia percaya.
Memberi mereka fasilitas dan kemewahan bahkan penghargaan (bintang). Tidak peduli mereka kompeten atau tidak. Mereka itu adalah veteran dan beberapa anak muda minim pengalaman. Selanjutnya mereka adalah orang-orang dari partai atau Ormasnya.
Di luar itu mereka diberi fasilitas dan wewenang terbatas sebagai pejabat negara. Mereka ini bisa jadi menteri, Wamen, komisaris atau apalah itu. Mereka silahkan berbuat asal tidak mengganggu kenyamanan Prabowo.
Dia suka mendengar kabar yang menyenangkan atau keberhasilan saja. Maka tak heran badan pusat statistik pun jadi "Bapak Prabowo Senang". Pidato-pidatonya di atas langit jauh dari realita.
Terakhir, para aparat yang terluka saat menjaga demo diberi kenaikan pangkat dan dikunjungi. Sedangkan mereka rakyat yang menjadi korban atau dijadikan korban dilihat bukan sebagai korban. Demonstran dipandang sebagai perusuh, maka pidatonya selalu bicara makar, kekuatan asing, dan hal lain yang senada.
Si omon tidak pernah membuka telinga apalagi hati untuk rakyat. Dia tidak mau mendengarkan rakyatnya. Dia hanya mendengarkan lingkarannya. Dia hidup dalam gelembung yang pasti akan meledak suatu saat nanti.