Kolom Eddy S. Sembiring: Sri Mulyani Indrawati Riwayatmu
Nama Sri Mulyani Idrawati (SMI) sangat populer dua dekade ini apalagi dua bulan terakhir ini. Ia menjadi Menteri Keuangan RI di era Presiden SBY. Ketenarannya semakin dikenal ketika SMI menjadi salah satu direktur Bank Dunia, lembaga keuangan terkemuka di dunia.
Ia menjadi direktur keuangan bank dunia setelah didepak oleh SBY dari kabinet karena keteguhannya membela keuangan negara ketika berhadapan dengan konglomerat Bakrie dalam kasus lumpur Lapindo Sidoarjo.
SMI kemudian menduduki jabatan Menteri Keuangan RI di masa Presiden Jokowi selama dua periode, mulai tahun 2016 sampai 2024. SMI masih menjabat di era presiden Prabowo selama kurang lebih 10 bulan yang akhirnya kemarin 8 September 2025 diresuffle oleh Prabowo.
Selama menjabat Menteri Keuangan RI di era Jokowi dan Prabowo, SMI sungguh menjadi andalan kedua presiden mencari uang untuk program-program presiden.
Berbagai proyek mercu suar Jokowi seakan-akan berjalan tanpa hambatan karena SMI sebagai bendahara negara gesit mencari dananya. Dengan kemampuan dan profesionalitasnya, SMI mencari dana untuk keuangan negara. Berbagai kebijakan keuangan dibuat SMI agar keuangan negara terjaga, meskipun akhirnya di akhir era Jokowi, utang negara bertambah besar.
SMI masih menjadi andalan Prabowo untuk menggalang dana. Prabowo juga setali tiga uang dengan pendahulunya. Proyek-proyek seperti MBG, KMP, sekolah rakyat dan penambahan batalion TNI membutuhkan anggaran besar ditambah beban utang negara yang jatuh tempo.
Bila di era Jokowi, SMI mencari dana lewat koorporasi dan orang kaya, salah satunya tax amnesty, di era Prabowo sebaliknya. SMI menarget kalangan menengah ke bawah. pajak-pajak dinaikkan bahkan sektor yang selama ini tidak kena pajak dikenai pajak. Rakyat menjerit, pejabat berkelit.
SMI giat bekerja dengan segala upaya dan profesionalistanya. Dia yang dikenal karena kehati-hatian dan pada jalur hukum berusaha menambah penghasilan negara. Dia sungguh bekerja maksimal sebagai menteri pencari dana negara. SMI sungguh menghamba dengan patuh dan taat pada atasannya yakni presiden. Dia mengikuti kemauan presiden dengan berbagai proyeknya.
SMI tidak menyadari bahwa ia telah terlalu jauh dan lelah bekerja pada tuan presiden. Atau ia telah terlena dengan kenikmatan jabatan menteri keuangan yang begitu lama sehingga ia tidak punya waktu untuk dirinya dan integritasnya sebagai pribadi.
Yang jelas SMI semakin jauh dari kebutuhan rakyat. Ia yang dikenal sebagai abdi negara dan abdi rakyat, pembela keuangan negara kini menjadi abdi tuan presiden.
SMI masih yakin dengan langkah-langkahnya ketika awal periode Prabowo mencari segala cara untuk mensukseskan program presiden. Dia lupa kondisi di lapangan. dengan ilmu ekonominya, ia berusaha bekerja keras, pantang mundur untuk menambah uang negara.
Ketika rakyat mulai mengkritik, dia masih tetap tegar dan tegak kepala pada apa yang dia kerjakan. Bahkan ketika demo mulai merebak ia masih tak bergeming. Demo yang merupakan respon kondisi yang sulit di lapangan dan kenaikan pajak-pajak tidak membuatnya tersadar. Ia hidup dalam gelembung (bubble) kekuasaan dan keyakinannya.
Kepercayan dirinya mulai goyah ketika rumah anggota DPR yang bengal itu didatangi dan dijarah massa. Nama SMI turut disebut bersama 3 anggota DPR yang rumahnya sudah dimasuki massa. SMI mencoba mencari perlindungan.
Tempo mengungkapkan bahwa SMI mencari perlindungan ke Presiden lewat Menteri Pertahanan RI, tetapi mereka hanya mengirimkan 20 personel untuk menjaga rumahnya.
Apa yang dicemaskannya menjadi kenyataan. Rumahnya ikut bobol. Sungguh di luar nalar, rumah pejabat tinggi negara sekelas SMI ikut dijarah massa. Ada dugaan kuat bahwa memang terjadi pembiaran masuknya massa ke rumah SMI.
SMI jatuh, hancur dan berantakan. Ia sempat mengajukan permohonan mundur usai rumahnya dimasuki massa. Permohonannya ditolak presiden. Akhirnya SMI sudah jatuh, ditimpa tangga dan diinjak tetangga. Ia menjadi korban politik tingkat tinggi.
Ia yang bekerja untuk tuannya lupa pada tuan sejatinya yakni rakyat. Tuan yang diabdinya itu tega membiarkan privasinya yakni rumahnya diobrakabrik massa. Sungguh suatu tragedi bagi SMI.
Lagu lama terdengar kembali, "Dang balio Sri". Sri yang minggat dari kekasihnya harusnya cepat kembali kepada rakyat sang kekasih sejati. Per*etan itu politikus bang*at!