Kolom Eko Kuntadhi: Algoritma Dan Bathin — Sorasirulo
Sorasirulo

Kolom Eko Kuntadhi: Algoritma Dan Bathin

Budaya ·
Kolom Eko Kuntadhi: Algoritma Dan Bathin

Saya setuju sebagian dengan argumen @masbud_sudjatmiko. Algoritma memang menjadi faktor penting terjadinya demonstrasi besar kemarin. Sejarawan Noah Harari menuliskan soal ini dalam buku berjudul Nexus. Tapi ingat juga. Algoritma gak bekerja sendiri.

Algoritma merespon apa yang menjadi kecenderungan publik dan melipatgandakan sebaran itu.

Artinya, selain kerja algoritma, apa yang dirasakan masyarakat secara umum adalah variabel paling penting kenapa sebuah pesan bisa menjadi kekuatan oenggerakl. Algoritma bekerja dengan dasar kecenderungan masyarakat. Ketika pesan kekecewaan pada kebijakan pemerintah diposting. Pesan itu direspon oleh masyarakat yang juga kecewa dengan kondisi sosial dan ekonomi.

Masyarakat yang kecewa karena hidupnya makin susah sementara pejabat terlihat hidup senang, wajahnya kinclong, mobilnya bagus dikawal to-tot-bep-bep. Bisa saja sebuah pesan itu dibuzz untuk menjangkau target yang lebih luas. Tapi, sehebat apapun pesan yang didorong, kalau isinya berbeda dengan perasaan publik tetap gak akan bisa menggerakkan orang.

Coba deh, bikin sebuah konten yang menggambarkan bahwa pejabat kita hidupnya sederhana. Mereka sedang berjuang untuk kesejahteraan rakyat. Dalam perjuangannya butuh biaya. Karena itu pajak rakyat sangat dibutuhkan.

Bahwa pejabat yang joget cuma segelintir dibandingkan yang gak joget. Bahwa aparat yang brutal adalah oknum dibanding sebagian besar aparat yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung.

Silakan buz pesan itu dengan biaya iklan yang mahal. Banjiri media sosial dengan konten tersebut. Apakah setelah itu rakyat akan berbondong-bondong ke kantor pajak? Atau berpikir bahwa sebagian besar pejabat memang baik hati dan setengah malaikat?

Saya yakin, gak. Karena apa yang dirasakan rakyat berkebalikan denga isi pesan tersebut. Apa yang dilihat dan dirasakan masyarakat setiap hari itulah yang menjadi dasar dia menyikapi sebuah pesan yang disebarkan oleh algoritma.

Jadi, meskipun algoritma punya andil dalam mendorong kericuhan kemarin. Tapi dasar masalahnya tetap suasana kebathinan rakyat yang muak dengan perilaku elit, minim empati dan brengsek.

Seviral-viralnya konten gak akan bisa menggerakan rakyat jika gak related dengan suasana kebathinan mereka.