Kolom Eko Kuntadhi: Asal Anak Gak Masuk Ugd, Kami
Mungkin kita terlalu tinggi menetapkan standar program. Nama peogramnya makan bergizi gratis. Makan makanan bergizi adalah step tertinggi dari kegiatan konsumsi. Sebelum sampai pada bergizi, kualitas makanan harus lolos standar dulu sebagai makanan layak konsumsi.
Kayak Penyu di laut yang penuh sampah plastik.
Penyu bisa menelan plastik. Memamah straw. Tapi plastik bukan bahan makanan yang lolos standar layak konsumsi. Karena itu, agar penyu gak makan plastik kita kampanye anti sampah plastik. Membersihkan laut dari barang berbahaya yang dapat dikonsumsi penghuni Samudera.
Nah, standar kita mungkin baru di situ. Kampanye anti makanan beracun. Jadi, mari kita turunkan ekspektasi untuk menilai program ini. Yang penting anak-anak kita gak keracunan.
Soal kebutuhan gizi anak-anak, biar kita sendiri yang urus sebagai orangtuanya. Pemerintah gak perlu repot berpikir keras di luar kemampuannya.
Dengan demikian, pemerintah senang program ini tetap jalan. Apalagi budget raksasa sudah diketuk. Sebagai rakyat kita juga gak degdegan saat melepas anak ke sekolah.
Gak apa-apa disajikan cireng doang, misalnya. Atau dibagikan kerupuk sama air putih saja. Atau sebutir permen saja. Gak apa-apa. Kami gak akan ceriwis membandingkan isi rantang dengan anggaran yang segede gaban. Atau pejabat mana yang menikmati cuan dari proyek ini.
Sekarang harapan kami sederhana: asal anak-anak gak harus masuk UGD, kami akan sangat berterimakasih pada pemerintah. Kami sudah sangat bersyukur jika anak-anak sehat sepulang dari sekolah...